Ekspor Minyak Rusia Merosot 10% Imbas Embargo UE dan Batas Harga Barat

ANTARA FOTO/REUTERS/Yoruk Isik/HP/dj
Kapal tanker minyak berbendara Rusia, Pegas, terlihat di pelabuhan di Marmara Ereglisi, bagian barat Turki, 16 Januari 2022. Gambar diambil 16 Januari 2022.
Penulis: Happy Fajrian
14/3/2023, 16.40 WIB

Ekspor produk minyak Rusia melalui laut turun 10,4% pada Februari karena embargo oleh Uni Eropa dan pembatasan harga minyak negara-negara barat pada bahan bakar Rusia mulai berlaku pada awal Februari lalu.

Menurut data dan perhitungan Reuters, total pengiriman produk minyak dari pelabuhan Rusia turun menjadi 9,531 juta ton bulan lalu, turun dari 11,781 juta ton yang diekspor melalui laut pada Januari.

Penurunan terbesar terlihat pada ekspor lintas laut dari pelabuhan Laut Hitam Rusia dan dari Laut Azov, di mana volumenya merosot hingga 20,5%. “Bagian dari penurunan itu karena kondisi laut yang keras dan cuaca badai,” kata sumber pasar kepada Reuters, Selasa (14/3).

Ekspor produk minyak dari pelabuhan Laut Baltik di Rusia turun 4,1%, sedangkan ekspor dari pelabuhan Timur Jauh melonjak 18,9%. Namun, Rusia mengekspor bahan bakar jauh lebih sedikit dari pelabuhan Timur Jauhnya.

Menjelang larangan UE terhadap produk minyak Rusia, Rusia mulai mengalihkan kargo produk minyaknya ke Afrika Utara dan Asia. Rusia dilaporkan meningkatkan ekspor dieselnya ke Arab Saudi melalui pengiriman langsung dan transfer antar kapal.

Menggunakan pemuatan STS, Rusia memperpendek rute kapal tanker menuju Afrika dan Asia setelah Moskow sekarang dilarang mengekspor bahan bakar ke UE.

Pada saat yang sama, Eropa meningkatkan impor solar dari Timur Tengah dan Asia untuk mengimbangi hilangnya barel Rusia, yang diimpor sekitar 600.000 barel per hari (bpd) sebelum embargo 5 Februari mulai berlaku.

Menurut JP Morgan, ekspor bahan bakar Rusia bisa turun 300.000 barel per hari akibat embargo UE, tetapi bank tersebut menambahkan bahwa Rusia dapat mempertahankan produksi minyak mentahnya pada tingkat sebelum perang.

“Tetapi akan lebih sulit bagi Rusia untuk kembali ke tingkat produksi minyak mentah sebelum pandemi,” tambah JP Morgan.