Konflik Iran - AS Memanas, Harga Minyak Dunia Bergolak

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan Kamis (19/2). Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah pembicaraan mengenai senjata nuklir tidak kunjung mencapai kesepakatan.
Penulis: Hari Widowati
19/2/2026, 11.08 WIB

Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan Rabu (18/2). Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah pembicaraan mengenai senjata nuklir tidak kunjung mencapai kesepakatan. Kekuatan militer AS yang dikerahkan ke Timur Tengah bersiap menunggu perintah Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran.

Menurut data Oilprice.com, harga minyak mentah WTI naik 0,43% menjadi US$ 65,47 per barel. Adapun harga minyak Brent naik 0,37% menjadi US$ 70,61 per barel, pada perdagangan Rabu (18/2).

Para pelaku pasar fokus pada pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance, yang mengatakan putaran kedua negosiasi dengan Iran telah produktif dalam beberapa hal, tetapi Tehran belum bersedia membahas beberapa “garis merah” yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump.

“Kepentingan utama kami di sini adalah kami tidak ingin Iran mendapatkan senjata nuklir,” kata Wapres JD Vance dalam wawancara dengan Fox News, seperti dikutip Anadolu Agency.

Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara tim AS dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.

“Disetujui bahwa kedua belah pihak akan bekerja pada draf perjanjian potensial, dan setelah bertukar teks. Waktu untuk putaran pembicaraan berikutnya akan ditentukan,” kata Araghchi.

Diplomat terkemuka Iran itu menyatakan terdapat jalan yang jelas di depan untuk negosiasi nuklir dengan pihak AS, yang dievaluasi secara positif dari perspektif Iran.

Pada 6 Februari, Oman menjadi tuan rumah putaran pertama pembicaraan tidak langsung di Muscat. Ini merupakan pembicaraan pertama AS dan Iran sejak Trump memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Trump sejak itu mengarahkan peningkatan militer AS di kawasan tersebut sambil mengancam Iran untuk membuat kesepakatan dengan Washington.

Meskipun komentar-komentar tersebut menunjukkan adanya kemajuan, para investor tampaknya enggan memperhitungkan pelonggaran penuh risiko geopolitik tanpa adanya tanda-tanda yang lebih jelas mengenai kesepakatan konkret. Kesepakatan yang berkelanjutan pada akhirnya dapat membuka pintu bagi perubahan dalam prospek pasokan minyak Iran, namun untuk saat ini ketidakpastian tetap ada.

Utusan AS Klaim Negosiasi Ukraina dan Rusia Menuju Kesepakatan

Sementara itu, Utusan Khusus AS Steve Witkoff mengatakan pada Selasa (17/2) bahwa Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk melanjutkan negosiasi setelah putaran ketiga pembicaraan trilateral di Jenewa, Swiss.

“Hari ini, atas arahan Presiden (Donald) Trump, AS memfasilitasi putaran ketiga pembicaraan trilateral dengan Ukraina dan Rusia,” katanya di platform media sosial AS, X.

Witkoff mengucapkan terima kasih kepada Swiss yang menjadi tuan rumah pertemuan tersebut.

“Kedua belah pihak sepakat untuk memberitahu pemimpin masing-masing dan melanjutkan upaya menuju kesepakatan,” kata Witkoff.

Pernyataan tersebut muncul setelah hari pertama pembicaraan damai yang dimediasi AS antara delegasi Rusia dan Ukraina berakhir tanpa perkembangan signifikan.

AS diwakili oleh Witkoff dan Kushner, masuk ke negosiasi setelah membantu pembicaraan tidak langsung dengan pejabat Iran di lokasi lain di Jenewa, pada Selasa (17/2) pagi.

Analis mengatakan pergeseran dalam keseimbangan geopolitik dapat meningkatkan premi risiko ke harga minyak.

Pasar juga memantau data persediaan AS, dengan angka dari American Petroleum Institute dijadwalkan dirilis pada Rabu (18/2) sore dan laporan resmi Energy Information Administration diharapkan pada Kamis (19/2) waktu setempat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.