Airlangga: B50 Hemat Devisa Rp177 Triliun, Impor Solar Bisa Dihentikan

Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto didampingi para menteri Kabinet Merah Putih menyaksikan pengisian bahan bakar B50 di SPBU Pertamina yang ada di Rest Area KM 57 Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (9/7).
Penulis: Ade Rosman
10/7/2026, 11.26 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan implementasi bahan bakar biodiesel B50 menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Airlangga mengklaim program ini mampu menghentikan impor solar sekaligus menghemat devisa hingga Rp 177 triliun.

Ia mengatakan, ketidakpastian global masih dipengaruhi konflik geopolitik, mulai dari perang di Ukraina hingga ketegangan di Selat Hormuz, serta disrupsi teknologi seperti akal imitasi (AI). Dalam kondisi ini, pemerintah memilih memperkuat fondasi ekonomi melalui penguatan rantai pasok, kedaulatan pangan, dan kedaulatan energi.

“Arahan Bapak Presiden, kita perkuat dalam setiap ketidakpastian itu yang terkait dengan kedaulatan pangan dan kedaulatan energi,” kata Airlangga, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7). 

Airlangga menuturkan, dengan meluncurkan program B50 menunjukkan Indonesia bisa memiliki kekuatan tersendiri.  

“Karena dengan B50, solar itu kita tidak impor lagi dan kita menghemat devisa Rp 177 triliun serta berkontribusi terhadap net zero emission sebesar 44 juta ton CO2e,” kata Airlangga.

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang diproduksi dari minyak nabati maupun hewani dan dapat digunakan sebagai pengganti sebagian solar pada mesin diesel. Mulai Juli 2026, Indonesia resmi menerapkan B50 setelah sebelumnya menjalankan program B40.

Pemerintah Mulai Bangun PLTS 100 Gigawatt

Airlangga menuturkan, selain memperkuat kemandirian energi, pemerintah juga mulai menjalankan program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt. 

Menurutnya, langkah tersebut didukung oleh kesiapan ekosistem hilirisasi baterai yang tidak hanya melayani kebutuhan kendaraan listrik, tetapi juga sistem penyimpanan energi atau battery storage system

Ia menggambarkan, investasi untuk pengembangan ekosistem baterai tersebut telah berjalan di sejumlah kawasan industri, yakni di Kendal, Jawa Tengah, serta Jawa Timur.

Airlangga menilai penguatan sektor energi menjadi salah satu fondasi penting agar Indonesia mampu menghadapi gejolak ekonomi global sekaligus mendukung transformasi menuju ekonomi hijau.

Ia mengatakan, kebijakan tersebut juga berjalan beriringan dengan upaya pemerintah mempercepat pengembangan ekonomi digital, termasuk pembangunan pusat data atau data center, pengembangan semikonduktor, dan peningkatan infrastruktur digital yang dilakukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman