Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Pemilu Israel
Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Rabu (28/10). Pelaku pasar mencermati hasil pemilihan umum Israel dan laporan mengenai persiapan Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan operasi militer baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu untuk memilih seluruh anggota DPR dan sekitar sepertiga anggota Senat.
Melansir pemberitaan Bloomberg, harga minyak mentah Brent naik di atas US$115 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$101 per barel.
Hasil dua jajak pendapat setelah pemungutan suara (exit poll) menunjukkan kubu pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot, bersaing ketat dengan kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kedua kubu belum memperoleh mayoritas yang cukup untuk menentukan pemimpin pemerintahan berikutnya. Hingga laporan tersebut disusun, petugas masih menghitung suara.
Kemungkinan Operasi Militer Baru terhadap Iran
Di tengah perkembangan politik Israel, The Wall Street Journal melaporkan bahwa AS telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk Persia untuk bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu di Amerika.
Laporan tersebut menyebutkan komunikasi melalui saluran diplomatik dan militer menjadi salah satu indikasi bahwa AS dan Israel tengah mempersiapkan operasi tempur skala besar terhadap Iran. Media itu mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, tetapi tidak mengungkapkan identitas mereka.
Presiden AS, Donald Trump, belum memutuskan untuk melanjutkan rencana serangan tersebut. Namun, menurut laporan The Wall Street Journal, Trump cenderung mempertimbangkan serangan besar setelah pemilihan paruh waktu.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mengganggu arus perdagangan energi global sejak Februari 2026. Saat itu, Trump dan Netanyahu memerintahkan serangan awal ke Teheran.
Dampak konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak Brent yang telah melonjak hampir 90% sepanjang tahun ini. Pelaku pasar terus memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak di tengah ketidakpastian perkembangan konflik.
Setelah pemilihan umum Israel, warga AS akan mengikuti pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Hasil pemilihan tersebut berpotensi menunjukkan penurunan dukungan terhadap pemerintahan Trump.
Dalam kampanyenya, Eisenkot menawarkan pendekatan yang lebih moderat dibandingkan Netanyahu. Meski demikian, ia tetap menegaskan komitmennya untuk mengatasi persoalan keamanan Israel.
Terkait Iran, Eisenkot menilai pemerintah Israel perlu membatasi program nuklir negara tersebut, termasuk melalui tindakan militer jika diperlukan. Namun, ia menganggap pergantian rezim di Teheran bukanlah tujuan yang realistis untuk dicapai.
Direktur Divisi Perdagangan Berjangka Energi Mizuho Securities USA LLC, Robert Yawger, menilai hasil pemilihan Israel berpotensi memengaruhi arah kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran.
Yawger mengatakan Trump berpotensi kehilangan Netanyahu sebagai mitra yang bersedia mendukung perang terhadap Iran jika hasil pemilihan mengubah peta politik Israel. Ia juga menilai hasil pemilihan Israel dapat menjadi gambaran awal mengenai dinamika dukungan politik dalam pemilihan paruh waktu AS.
Di kawasan Timur Tengah, risiko gangguan pasokan energi masih tinggi. Infrastruktur energi Arab Saudi berulang kali menghadapi serangan kelompok Houthi dari Yaman yang mendapat dukungan Iran.
Serangan terbaru memicu kebakaran di dekat Ras Tanura pada Selasa (27/10) dini hari. Ras Tanura merupakan salah satu pusat ekspor minyak terbesar Arab Saudi.
Seseorang yang mengetahui insiden tersebut mengatakan petugas telah mengendalikan kebakaran. Namun, pihak terkait belum memastikan tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Pelanggaran di Selat Hormuz
Sementara itu, Otoritas Selat Teluk Persia Iran mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap kapal-kapal milik Sinokor. Otoritas tersebut menuduh perusahaan itu melakukan pelanggaran berulang selama tiga bulan terakhir.
Sinokor, yang disebut sebagai pemilik kapal tanker minyak terbesar di dunia, telah mengangkut jutaan barel minyak melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir. Aktivitas tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak global.
Dari sisi pasokan Amerika Serikat, American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah negara tersebut turun 2 juta barel pada pekan lalu. Bloomberg memperoleh informasi tersebut dari dokumen yang dilihatnya.
Sementara itu, pemerintah AS dijadwalkan merilis data resmi persediaan minyak mentah pada Rabu (28/10) waktu setempat. Pelaku pasar akan mencermati data tersebut untuk menilai kondisi pasokan minyak di negara konsumen energi terbesar dunia itu.
Selain perkembangan geopolitik dan data persediaan minyak, pelaku pasar juga menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Para pembuat kebijakan diperkirakan mempertahankan suku bunga, sehingga biaya pinjaman tidak mengalami perubahan.