Pemerintah Targetkan Produksi Plastik Ramah Lingkungan Naik 5 Persen

ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Penulis: Muhammad Firman
Editor: Pingit Aria
8/5/2017, 21.37 WIB

Kementerian Perindustrian menargetkan peningkatan produksi plastik ramah lingkungan sebesar 5 persen per tahun. Saat ini, kapasitas produksi plastik yang dapat terurai secara alami (biodegradable plastic)  ini sebesar 200 ribu ton per tahun.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan konsumsi plastik di Indonesia mencapai lima juta ton per tahun. Namun baru 50 persen yang bisa dipenuhi dari industri dalam negeri.

(Baca juga:  Bernilai Rp 90 Triliun, Industri Minuman Ringan Diklaim Terus Susut)

Produksi plastik saat ini banyak diserap oleh industri makanan dan minuman untuk kemasan produknya. “Kami mendukung pabrik ini agar terus ekspansi dan mengembangkan teknologinya. Bahkan, potensi investasinya masih cukup besar,” kata Airlangga usai mengunjungi PT Inter Aneka Lestari Kimia dan PT Harapan Interaksi Swadaya di Tangerang, Banten, Senin (8/5).

Airlangga mengatakan bahwa pemerintah masih kesulitan untuk menghapus penggunaan produk plastik secara keseluruhan. Namun, inisiatif yang bisa didorong adalah memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), mendaur ulang sampah plastik (recycle), serta mengembalikan ke alam melalui penguraian alami.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan supaya penggunaan non-plastik ini bisa dipergunakan lebih luas. Ia mengatakan pemerintah memang sedang bekerja keras memerangi sampah plastik. Sebab hingga akhir tahun 2016, Indonesia tercatat sebagai kontributor sampah plastik di laut urutan kedua terbesar di dunia.

(Baca juga:  Industri Tumbuh 4,3%, Pengusaha Masih Keluhkan Suku Bunga)

Luhut memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk ramah lingkungan serta meningkatkan penggunaan konten lokal. “Produk ini konten lokalnya sudah mencapai 50 persen. Kami yakin, jika volume produksinya diperbesar lagi, harganya bisa turun,” katanya.

Reporter: Muhammad Firman