Cina Peringatkan Negara Lain Agar Tak Buat Kesepakatan Merugikan dengan AS

123RF.com/Dilok Klaisataporn
Amerika Serikat (AS) menuding Cina sebagai currency manipulator alias sengaja melemahkan nilai tukar yuan untuk meningkatkan daya saing produk ekspornya.
21/4/2025, 13.47 WIB

Cina memperingatkan negara-negara mitra dagang agar tidak membuat kesepakatan ekonomi yang merugikan mereka dengan Amerika Serikat (AS). Menurut Cina, kesepakatan tersebut tidak akan menyelesaikan masalah perang tarif. 

Juru bicara Kementerian Perdagangan Cina juga menegaskan bahwa pihak mana pun yang mencapai kesepakatan dengan mengorbankan kepentingan Cina akan ditentang. Jika hal itu terjadi, Cina tidak akan menerima dan akan mengambil langkah balasan yang tegas.

"Mengalah tidak membawa kedamaian, dan kompromi tidak memperoleh rasa hormat. Mencari keuntungan sementara dengan mengorbankan pihak lain dalam pertukaran yang disebut pengecualian, sama seperti meminta kulit harimau. Pada akhirnya, itu tidak akan membuahkan hasil dan justru merugikan kedua belah pihak," kata Juru Bicara Cina, dikutip dari CNN, Senin (21/4).

Pada 9 April 2025, Presiden Donald Trump menangguhkan tarif impor untuk sebagian besar negara selama 90 hari. Fokus utama kebijakan ini adalah perang dagang dengan Cina, dengan menaikkan tarif impor barang-barang Cina hingga 145%.

Menurut laporan Wall Street Journal pada minggu lalu, pemerintah Trump berencana menggunakan negosiasi tarif yang sedang berlangsung untuk menekan mitra dagangnya agar membatasi hubungan mereka dengan Cina.

Berdasarkan sumber yang tidak disebutkan namanya, AS meminta negara-negara mitra untuk tidak mengizinkan barang-barang Cina melewati wilayah mereka. Selain itu, AS juga melarang perusahaan-perusahaan Cina untuk beroperasi di negara-negara tersebut guna menghindari tarif yang diterapkan oleh AS.

AS meminta agar negara-negara mitra tidak menyerap barang-barang industri Cina yang murah ke dalam perekonomian mereka. Hal ini bertujuan untuk menekan ekonomi Cina dan mendukung kebijakan tarif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ferrika Lukmana Sari