Sinyal Ekonomi Pulih, Tambahan Pekerja di AS Tertinggi dalam 11 Bulan
Amerika Serikat (AS) melaporkan perkembangan mengembirakan dari sektor tenaga kerja. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan adanya penambahan 943 ribu pekerja di bulan Juli . Angka ini adalah yang tertinggi sejak September 2020 yakni 1,58 juta orang.
Jumlah penambahan orang yang bekerja ini jauh melebihi konsensus pasar yakni 850-870 ribu. Peningkatan ini juga semakin menegaskan jika perekonomian negara adi daya tersebut telah pulih setelah jatuh karena pandemi Covid-19.
Penambahan pekerja diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan pemulihan ekonomi dan percepatan vaksinasi. Namun, kondisi bisa berubah ke arah sebaliknya jika negara tersebut gagal memerangi ganasnya varian Delta Covid-19.
“Dalam hal pertumbuhan ekonomi, kita mungkin sedang dalam tahap lari sprint tetapi kita bisa berubah ke fase marathon. Varian Delta adalah perhatian terbesar kita semua,” ujar Scott Anderson, kepala ekonom Bank of West, San Fransisco, seperiti dilansir BBC.
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat juga melaporkan adanya penurunan pengangguran yang signifikan. Angka pengangguran di AS turun ke level 5,4% di bulan Juli, atau terendah sejak Maret 2020 yakni 4,4%.
Pada Juli 2021, jumlah orang yang menganggur di Amerika Serikat berkurang 782 ribu menjadi 8,7 juta. Angka ini memang masih lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan pada Februari 2020 yakni 5,7 juta atau saat Covid-19 belum menjadi pandemi global.
Namun, jumlah pengangguran di AS di bulan lalu jauh lebih rendah dibandingkan yang dicatat pada April 2020. Saat itu, sebanyak 23 juta orang AS harus kehilangan kerja menyusul pandemi yang tidak terkendali.
Data menarik dari penambahan kerja AS datang dari sektor leisure dan hospitality. Sektor yang sempat hancur karena pembatasan mobilitas tersebut mampu menambah 380 ribu pekerja di bulan Juli, di mana sepertiga penambahannya ada di tempat-tempat yang melayani minuman.
Penambahan pekerja dalam jumlah signifikan juga terjadi di sektor pendidikan pemerintah lokal yakni 220.700 orang. Sementara itu, penambahan pekerja kerja di sektor akomodasi, seni, hiburan, dan rekreasi, mencapai 53 ribu. Sekor kesehatan menambah 37 ribu pekerja dan manufaktur 27 ribu. Namun, ada penurunan pekerja sebanyak 7 ribu di sektor ritel pada Juli.
Pada bulan Juli 2021, upah yang diterima pekerja AS naik 0,4% menjadi US$30,54 per jam. Namun, rata-rata jam kerja dalam seminggu tetap tidak berubah yakni di level 34,8 jam.
Dampak bagi Indonesia
Perbaikan data tenaga kerja di Amerika Serikat akan menjadi salah satu pertimbangan The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Bank sentral Amerika Serikat tersebut sebelumnya telah memberi sinyal akan adanya pengetatan stimulus moneter atau tapering off lewat rencana percepatan kenaikan suku bunga dari semula 2024 ke 2023.
Selain data tenaga kerja, indikator ekonomi seperti inflasi juga terus menunjukan arah yang positif. Amerika Serikat mencatatkan inflasi sebesar 5,4% di Juni, level ini adalah yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan Bank Indonesia sudah mengantisipasi kemungkinan tapering off oleh The Fed karena kebijakan The Fed akan berdampak ke pergerakan rupiah dan pasar obligasi Indonesia.
"Tapering oleh bank sentral AS paling cepat akan dilakukan awal 2022, secara bertahap. Sedangkan kenaikan bunga diprediksi November 2022," ujar Perry dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi pada akhir bulan lalu.