Produksi Solar Surplus, Pertamina Jajaki Ekspor

Arief Kamaludin | Katadata
20/4/2016, 14.36 WIB

PT Pertamina (Persero) mengaku pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin diesel di dalam negeri berlimpah saat ini. Produksi solar yang dihasilkan dari beberapa kilang yang dimiliki perseroan sedang surplus. Saat ini Pertamina sedang menjajaki beberapa kemungkinan untuk menjual kelebihan solar tersebut ke luar negeri.

Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi mengatakan saat ini Indonesia sedang mengalami surplus solar sekitar 140 ribu barel per bulan. Surplus ini terjadi, salah satunya karena industri pengguna solar di dalam negeri yang sedang lesu. Sehingga penyerapan solar ikut menurun. Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penjualan solar Pertamina hingga kuartal I tahun ini memang hanya mencapai 2,92 juta kiloliter. Angka ini lebih rendah 11,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kelebihan ini nantinya akan diekspor Pertamina. “Kami sedang jajaki tujuan ekspornya,” kata Rachmad di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (19/4). Dengan kelebihan tersebut, Pertamina juga menyetop impor Solar. Tidak hanya Solar, nantinya Badan Usaha Milik Negara migas ini juga akan menghentikan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis lainnya seperti Premium pada 2025. Ini seiring dengan berjalan proyek peningkatan kapasitas kilang Pertamina. (Baca: Bulan Ini Pertamina Mengakhiri Kontrak Impor Solar)  

Sejak beroperasinya fasilitas Residual Fuel Catalytic Cracking (RFCC) Kilang Cilacap dan Kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) produksi BBM memang sedikit meningkat. RFCC Kilang Cilacap dapat mengurangi 40 persen impor BBM, sementara kilang TPPI 32 persen. Ini karena kapasitas Kilang TPPI dapat menghasilkan Premium sekitar 61.000 barel per hari atau sekitar 22,27 juta barel per tahun.

Sementara fasilitas RFCC Kilang Cilacap bisa memproduksi bensin oktan tinggi atau HOMC (High Octane Mogas Component) sekitar 37.000 barel per hari. Sebelumnya Kilang Cilacap belum mampu memproduksi produk ini. Produksi HOMC tersebut, sebagian besarnya diproses lebih lanjut untuk diproduksikan menjadi Premium. Selain memproduksi HOMC, RFCC Cilacap juga akan meningkatkan produksi LPG dari Kilang Cilacap menjadi 1.066 ton per hari dan produk baru propylene sebanyak 430 ton per hari. (Baca: Peluncuran Dexlite Diharapkan Dapat Kurangi Subsidi Solar)

Selain itu, Pertamina juga sedang memodifikasi beberapa kilang miliknya di Dumai, Plaju, Balongan, Cilacap dan Balikpapan. Proyek ini sering disebut Refining Development Masterplan Program (RDMP). RDMP diproyeksikan akan mendongkrak kapasitas pengolahan minyak mentah dari posisi saat ini sekitar 820.000 barel per hari (bph) menjadi 1,68 juta bph atau dua kali lipat. 

Produksi bahan bakar yang dihasilkan dari kilang tersebut akan naik sekitar 2,5 kali lipat dari 620 ribu barel per hari (bph) menjadi 1,52 juta bph dengan produk utama gasoline dan diesel. Produk-produk tersebut akan memiliki kualitas tinggi yang sesuai dengan standard Euro IV. (Baca: Harga Premium Indonesia Termurah Kedua di ASEAN)

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan sebelum dieskpor, Solar tersebut akan terlebih dulu dikonversi ke Smooth Fluid. Pertamina sebenarnya sudah memproduksi Smooth Fluid 05. Smooth Fluid 05 merupakan produk yang berbasis minyak dengan spesifikasi dan kegunaan khusus sebagai penunjang kegiatan pengeboran sumur minyak. “Harganya bisa lebih mahal dibandingkan Solar,” ujar dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.