Bulan Ini Pertamina Mengakhiri Kontrak Impor Solar

Arief Kamaludin|KATADATA
Penulis: Safrezi Fitra
29/12/2015, 15.15 WIB

KATADATA - PT Pertamina (Persero) memastikan untuk tidak lagi mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar mulai tahun depan. Untuk mencukupi kebutuhan Solar nasional, Pertamina hanya akan mengandalkan produksi dari dalam negeri.

Vice President Supply & Distribution Pertamina Fariz Aziz mengatakan saat ini impor solar memang masih dilakukan. Namun, volumenya sudah jauh berkurang. Produksi dalam negeri sudah bisa menutupi kebutuhan impor tersebut. (Baca: JK Optimistis ke Depan Indonesia Setop Impor BBM)

Akhir tahun ini akan menjadi momen terakhir Pertamina mengimpor BBM untuk mesin diesel. "Kami hanya habiskan kontrak impor solar tahun ini. Mulai Januari nanti sudah tidak impor, semua dari kilang kami,” ujarnya saat ditemui dalam acara temu media di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (29/12).

Menurutnya ada beberapa hal yang membuat Pertamina bisa melepaskan ketergantungan impor Solar. Yaitu bertambahnya kapasitas kilang yang dimiliki Pertamina dan kebijakan pemerintah yang mewajibkan penggunaan bahan bakar nabati dalam solar. (Baca: Kilang Pertamina Beroperasi, Impor Migas Terendah dalam 13 Bulan)

Penambahan kapasitas kilang terjadi seiring dengan rampungnya pengerjaan proyek Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Kilang RU IV Cilacap. Proyek senilai lebih dari Rp 11 triliun ini mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 87.000 barel per hari. Dengan demikian impor solar bisa berkurang 30 persen dan menghemat devisa hingga US$ 3,56 juta per hari. (Baca: Penurunan Harga Minyak Hambat Kebijakan Biodiesel)

Selain Kilang Cilacap, kapasitas produksi Solar Pertamina juga bertambah dengan mulai dioperasikan kembali kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama. Kapasitas kilang ini cukup besar, mencapai 100.000 barel per hari.

Pertamina sempat menyebut sebelum adanya penambahan kapasitas produksi dari dua kilang tersebut, impor solar tahun ini sudah bisa ditekan. Dalam 10 bulan tahun ini impor Solar sudah berkurang hingga 87 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (Baca: Konsumsi Rendah, Subsidi Solar Hemat Rp 3 Triliun)

Berkurangnya impor tidak hanya disebabkan konsumsi masyarakat yang menurun. Sejak Agustus, pemerintah sudah mulai mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 15 persen pada solar atau kebijakan B15. sehingga konsumsi Solar murni berkurang.

Tahun depan, pemerintah memberlakukan kebijakan B20, dengan meningkatkan campuran biodiesel menjadi 20 persen. Dengan kebijakan ini dan bertambahnya kapasitas kilang, Pertamina memperkirakan tahun depan produksi solar bisa surplus hingga 400.000 barel per bulan. (Baca: Surplus Solar Akan Dimanfaatkan Untuk Kegiatan Hulu Migas)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Miftah Ardhian