Mengapa Amazon Lihat RI Pasar Potensial untuk Bisnis Data Center?

instagram/@amazonwebservices
Amazon Web Services Summit pada Mei 2019
1/2/2021, 16.34 WIB

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) Amazon Web Service (AWS) membangun pusat data (data center) di Jawa Barat, Indonesia, yang ditarget rampung tahun ini. Anak usaha Amazon itu menilai, Nusantara merupakan pasar potensial karena ada banyak startup dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Startup dan UMKM di Indonesia semakin banyak. Ini potensial bagi bisnis komputasi awan (cloud)," kata Head of Solutions Architect, ASEAN AWS Paul Chen dalam AWS Media Briefing ‘Prediksi Cloud dan Inovasi Teknologi Digital 2021’, Senin (1/2).

Ia mengatakan, startup yang terus berinovasi membutuhkan basis data yang besar. Sedangkan laporan The Future of Fintech in Southeast Asia oleh Dealroom, Finch Capital, dan MDI Ventures pada September 2020, Indonesia dan Singapura merupakan dua negara yang mempunyai ekosistem startup teknologi paling bernilai di Asia Tenggara. 

Total valuasi startup teknologi di Singapura US$ 60 miliar, sementara Indonesia US$ 35 miliar. Secara rinci dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

Indonesia juga memiliki empat unicorn dan satu decacorn. Unicorn merupakan sebutan bagi perusahaan rintisan dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar seperti Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, dan OVO.

Sedangkan decacorn adalah startup yang memiliki valuasi lebih dari US$ 10 miliar. Indonesia memiliki satu, yakni Gojek.

Selain startup, Amazon memprediksi ada banyak  UMKM yang mengadopsi cloud pada tahun ini. Sebab, pelaku usaha beralih ke digital selama masa pandemi corona.

"Di Indonesia, UMKM menyumbang 99% dari bisnis di beberapa sektor kunci, terutama pariwisata dan ekonomi kreatif," kata Paul. "Penetrasi online di Indonesia juga
sudah termasuk yang tertinggi di dunia."

Jumlah UMKM di Indonesia dapat dilihat pada Databoks berikut:

Sedangkan kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia tertera pada Databoks di bawah ini:

Paul mencontohkan pemanfaatan cloud oleh startup digitalisasi UMKM Warung Pintar. Perusahaan ini menyasar warung kelontong dengan memanfaatkan cloud agar pengelolaan bisnis berjalan optimal. 

"Operator toko Warung Pintar sekarang mendapatkan manajemen inventaris, pelacakan, analisis penjualan, pembayaran tanpa uang tunai, dan lainnya," kata Paul.

Oleh karena itu, Amazon mengkaji pembangunan pusat data di Indonesia sejak akhir 2018 lalu. Saat itu, Vice President Amazon Wernel Vogel bahkan menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan dan menyatakan rencana investasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. 

Investasi tahap awal tersebut digunakan untuk mengembangkan layanan data center selama 10 tahun.

Country Leader AWS Indonesia Gunawan Susanto memastikan bahwa Amazon akan membuka data center pertama di Indonesia pada akhir 2021. Amazon juga mengumumkan Jakarta sebagai salah satu region baru AWS di kawasan Asia Pasifik. 

"Jakarta menjadi salah satu region baru AWS yang akan mempunyai tiga availability zones (zona ketersediaan), di mana masing-masing zona ketersediaan akan memiliki minimal satu data center," kata Gunawan di acara AWS Media Briefing pada 2019 lalu.

Selain Amazon, Google dan Alibaba juga membangun pusat data di Indonesia. Pada akhir Juni 2020 lalu, Google telah meluncurkan pusat data di Jakarta.

Sebelumnya, CEO Google Sundar Pichai mengatakan bahwa Indonesia pasar potensial untuk bisnis cloud. Alasannya sama, yakni banyak startup di Nusantara.

"Apa pun ukuran perusahaan atau startup di industri seperti jasa keuangan, perawatan kesehatan, manufaktur, logistik, atau retail, dan e-commerce, layanan kami hadir untuk mendukung transformasi digital," kata Sundar, pertengahan tahun lalu (24/6/2020). 

Raksasa teknologi asal Tiongkok Alibaba juga bakal meluncurkan pusat data ketiga di Indonesia pada awal tahun ini. Perusahaan juga menyiapkan pusat scrubbing data guna melindungi pelanggan dari serangan siber.

Country Manager Alibaba Cloud Indonesia Leon Chen mengatakan, perusahaan menambah pusat data di Indonesia, karena permintaan layanannya cukup tinggi. "Banyak perusahaan mulai mengadopsi cloud untuk keperluan data di tengah pandemi. Banyak bisnis, termasuk bank yang memindahkan infrastruktur teknologi informasi mereka ke cloud," kata dia saat konferensi video, tahun lalu (2/7/2020).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan