Badai Salju di AS Lumpuhkan Ekonomi, Kerugian Berpotensi Capai US$ 600 Miliar
Badai musim dingin yang mematikan dan meluas yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Timur Amerika Serikat (AS) dengan es, salju, dan cuaca dingin juga menimbulkan kerugian miliaran dolar bagi ekonomi AS. Para ahli memperkirakan kerugian ekonomi yang ditimbulkan badai ekstrem ini mencapai 0,5% hingga 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS atau sekitar US$ 150 miliar-US$ 600 miliar (Rp 2.520 triliun-Rp 10.081 triliun, dengan kurs Rp 16.800 per US$).
Ekonom dan ahli meteorologi berusaha menghitung biaya gangguan yang ditimbulkan bencana cuaca musim dingin. Namun, hal ini tidak semudah menghitung bangunan yang hancur akibat badai, banjir, dan kebakaran.
“Peristiwa seperti badai ini menyoroti betapa saling terhubungnya ekonomi kita dengan kondisi cuaca. Ketika pusat transportasi utama ditutup atau jaringan listrik gagal, efek berantai menyebar melalui rantai pasokan dan operasi bisnis di berbagai sektor secara bersamaan,” kata Jacob Fooks, Ekonom di Cooperative Institute for Research in the Atmosphere, di Colorado State University, seperti dikutip Associated Press, Senin (26/1).
Fooks mengatakan para peneliti belum mencapai kesepakatan, tetapi sebagian besar perkiraan menunjukkan peristiwa cuaca ekstrem secara kolektif dapat mengurangi produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,5% hingga 2% per tahun. Ini adalah angka yang sangat signifikan.
Dengan PDB AS sekitar US$ 30 triliun per tahun, angka tersebut diperkirakan berkisar antara US$ 150 miliar hingga US$ 600 miliar (Rp 2.520 triliun-Rp 10.081 triliun).
Masih Terlalu Dini untuk Memprediksi Kerugian Ekonomi Akibat Badai Salju
Sebagian besar ekonom, ahli meteorologi, dan pakar bencana mengatakan masih terlalu dini untuk memberikan perkiraan biaya yang sah untuk badai akhir pekan dan minggu depan yang akan mengalami suhu di bawah titik beku. Perusahaan swasta AccuWeather mengumumkan perkiraan awalnya untuk badai yang menyebabkan 11.400 penerbangan dibatalkan itu.
Accuweather memperkirakan kerugian ekonomi akibat badai ini berkisar antara US$ 105 miliar hingga US$ 115 miliar (Rp 1.764 triliun-Rp 1.932 triliun). Namun, enam pakar menilai perhitungan ini terlalu tinggi dan kurang rinci.
“Banyak dari perkiraan itu berasal dari gangguan yang terjadi pada perdagangan dan biaya pemadaman listrik,” kata Jonathan Porter, Kepala Meteorolog AccuWeather, kepada Associated Press dalam konferensi tahunan American Meteorological Society di Houston yang dingin.
“Beberapa bisnis akan ditutup selama berhari-hari, seminggu, atau lebih.”
Itulah mengapa AccuWeather menyebut badai ini sebagai “badai yang menghentikan segalanya.” Hingga Senin (26/1), badai ini telah menewaskan setidaknya 25 orang.
Es yang menimpa kabel listrik menyebabkan ratusan ribu orang kehilangan aliran listrik, kerusakan pohon, kerusakan mobil, dan semua penerbangan yang dibatalkan. Porter mengatakan perlu waktu untuk memulihkan penerbangan dan mengembalikan aliran listrik.
Estimasi Angka Kerugian Terlalu Tinggi
Ekonom iklim Adam Smith, yang pernah memimpin daftar bencana cuaca senilai miliaran dolar di Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), mengatakan badai ini akan dengan mudah menelan biaya miliaran dolar. Badai salju ini akan menjadi bencana cuaca senilai miliaran dolar pertama di AS pada 2026.
Smith, yang kini menjadi ilmuwan senior dampak iklim di Climate Central, mengatakan angka tersebut jauh lebih rendah dari perkiraan AccuWeather. Ia menyebut perusahaan swasta tersebut menjadi penyimpang di antara para ahli dalam bidang dampak iklim dan ekonomi.
Ia menunjuk pada perkiraan awal perusahaan swasta tersebut sebesar US$ 250 miliar (Rp 4.200,6 triliun) untuk kerusakan akibat kebakaran hutan di Los Angeles tahun lalu. Beberapa kelompok iklim, risiko, dan asuransi menunggu untuk melakukan analisis mendalam dan semuanya mengatakan angka kerugian sebenarnya sekitar US$ 60 miliar (Rp 1.008 triliun).
Porter mengatakan perkiraan AccuWeather jauh lebih tinggi karena mereka memperhitungkan biaya tidak langsung dan jangka panjang, termasuk rantai pasokan bisnis serta biaya medis. "Sebagian besar perkiraan lain tidak menggambarkan dengan tepat tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dan bisnis,” kata Porter.
Ia menunjuk ke halaman bencana miliaran dolar di situs NOAA yang mencantumkan faktor-faktor yang tidak dipertimbangkan. Halaman tersebut menyatakan bahwa perkiraan NOAA “seharusnya dianggap konservatif dibandingkan dengan apa yang sebenarnya hilang.”
"Sampai saat ini, badai salju musim dingin termahal yang tercatat di AS adalah badai es Texas pada tahun 2021, yang menelan biaya sekitar US$ 26 miliar (Rp 436,9 triliun)," kata Smith dan Fooks.
Badai salju di Northeast pada 2016 menelan biaya sekitar US$ 3 miliar atau Rp 50,41 triliun. Smith mengatakan badai yang terjadi akhir pekan ini berpotensi mencapai biaya yang sama dengan badai Texas 2021 karena jangkauannya yang sangat luas.