Krisis Energi Mengintai, Kabar Baru Proyek Nuklir Datang dari Asia
Minat negara-negara untuk mengadopsi dan memperluas penggunaan energi nuklir menguat di tengah ancaman berulang krisis minyak dan gas karena rapuhnya situasi geopolitik, selain tuntutan dan kebutuhan akan sumber energi rendah emisi.
Menurut World Nuclear Association, hampir 40 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Cina, telah bergabung dalam inisiatif global untuk melipatgandakan kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir hingga tiga kali lipat menjadi pada 2050.
Asia Tenggara diperkirakan akan menyumbang hampir seperempat dari total 157 gigawatt kapasitas baru yang berasal dari negara-negara pendatang baru (newcomer nuclear nations).
Selain untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang semakin berisiko, proyek nuklir juga bagian dari upaya negara-negara menekan emisi dan memenuhi permintaan listrik bersih, termasuk dari pusat-pusat data. Meskipun, dengan pengoperasian pembangkit nuklir, beberapa negara bisa masuk ke ketergantungan baru yaitu impor bahan bakar nuklir seperti uranium.
Sepanjang Maret ini, beberapa perkembangan baru terkait proyek nuklir datang dari Asia, termasuk Indonesia.
Vietnam Buka Peluang Hidupkan Kembali Proyek Lama
Vietnam membuka kembali pembahasan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Ninh Thuan 1 yang sebelumnya dikerjakan bersama Rusia. Proyek ini sempat dibatalkan pada 2016 karena alasan biaya dan kekhawatiran akan utang publik.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan negaranya untuk mempercepat pembangunan proyek tersebut. Dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh di Kremlin, Moskow, pada Senin (23/3), Putin menyebut proyek ini sebagai simbol baru hubungan strategis kedua negara.
Ninh Thuan 1 direncanakan memiliki kapasitas sekitar 2.400 megawatt, terdiri dari dua reaktor teknologi VVER-1200 generasi terbaru buatan Rusia.
Proyek ini merupakan bagian dari strategi Vietnam untuk memperkuat ketahanan energi, setelah dalam beberapa tahun terakhir negara tersebut menghadapi tekanan pasokan listrik akibat pertumbuhan industri yang cepat serta cuaca ekstrem seperti kekeringan yang mengganggu operasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Bangladesh Bersiap Operasikan Pembangkit Nuklir
PLTN Roupur di Bangladesh dijadwalkan memasuki proses pengisian bahan bakar (fuel loading) di PLTN pada 7 April 2026. Proyek Rooppur terdiri dari dua unit reaktor VVER-1200 dengan total kapasitas sekitar 2.400 megawatt. Unit pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2026, meski sejumlah laporan menyebut jadwal ini masih berpotensi mundur.
Pembangkit ini merupakan proyek nuklir pertama di negara tersebut yang dibangun lewat kerja sama dengan Rusia, dengan nilai investasi mencapai sekitar US$12,6 miliar yang sebagian besar dibiayai melalui pinjaman dari Rusia.
Rooppur diharapkan segera memasok listrik ke jaringan nasional, membantu mengatasi kekurangan pasokan yang selama ini kerap terjadi. Selain untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik, proyek ini juga menjadi langkah strategis Bangladesh untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang selama ini membebani neraca energi negara tersebut.
Indonesia Kerja Sama Kenukliran Baru dengan Jepang
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia tampak lebih serius menjajaki pengembangan pembangkit listrik energi nuklir. Dalam pernyataan terbaru, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan, pemerintah menargetkan Indonesia memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir dengan total 7 gigawatt pada 2034.
Beberapa investor asing dilaporkan menjajaki peluang untuk pengembangan pembangkit nuklir di Indonesia, antara lain dari Rusia, Cina, dan Amerika Serikat. Selain itu, ada juga pembicaraan antar-pemerintah terkait proyek nuklir Indonesia. Pada 15 Maret 2026, pemerintah Indonesia dan Jepang menandatangani nota kesepahaman kerja sama yang mencakup pengembangan mineral kritis dan energi nuklir. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan bilateral di sela forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo.
Indonesia membuka peluang pengembangan pembangkit nuklir berkapasitas besar serta reaktor modular kecil (small modular reactors atau SMR). Teknologi SMR dinilai cocok untuk mendukung pasokan listrik di daerah terpencil dan pulau-pulau kecil karena pembangunannya cepat dan disebut-sebut lebih aman.