Sebanyak 234 pelobi dari industri minyak, petrokimia, dan plastik hadir dalam acara negosiasi tentang plastik Intergovernmental Negotiating Committee (INC) 5.2. Aktivis was-was mereka akan berupaya menggagalkan upaya mengurangi sampah plastik di dunia.

Jumlah para pelobi dari perusahaan minyak, petrokimia, dan plastik itu melebihi gabungan delegasi dari seluruh 27 negara anggota Uni Eropa, serta melampaui jumlah orang yang hadir bersama delegasi ilmuwan dan masyarakat pribumi pada pembicaraan Jenewa.

Aliansi Zero Waste Indonesia atau AZWI menyebutkan negosiasi tersebut sudah berjalan seminggu dan belum ada tanda-tanda kesepakatan. Diskusi yang digelar sejak 5 Agustus ini meninggalkan sekitar 1.000 tanda kurang dalam teks resmi alias hal-hal yang belum disepakati hingga 8 Agustus.

Para peneliti sekaligus aktivis lingkungan yang datang ke Palais des Nations, Jenewa, Swiss pun melakukan aksi damai di depan gedung pada Sabtu (9/8). “Mereka mendorong para delegasi untuk tepati janji mengakhiri polusi plastik,” tulis AZWI dalam keterangan pers dikutip dari Instagram, Minggu (10/8).

Banyaknya jumlah pelobi dari perusahaan minyak, petrokimia, dan plastik membentuk dua kubu dalam proses negosiasi. Sebagian mendukung penghentian produksi plastik dan sebagian lain mendorong adanya mekanisme bisnis yang kuat.

Lebih dari 100 negara telah menyatakan keinginan untuk mengurangi produksi plastik. Akan tetapi, kelompok negara penghasil minyak dan plastik seperti Arab Saudi, Iran, dan Rusia, lebih menekankan solusi hilir untuk mengatasi limbah.

Center for International Environmental Law atau CIEL bahkan mencatat ada 19 pelobi duduk di delegasi nasional Mesir, Kazakhstan, Cina, Iran, Chili, dan Republik Dominika.

"Perusahaan bahan bakar fosil berperan penting dalam produksi plastik, karena lebih dari 99% plastik berasal dari bahan kimia yang bersumber dari bahan bakar fosil," ujar juru kampanye plastik dan petrokimia global Ciel Ximena Banegas dikutip dari The Guardian, akhir pekan lalu (8/8).

"Setelah puluhan tahun terhambat dalam negosiasi iklim, mengapa ada yang berpikir bahwa mereka akan tiba-tiba muncul dengan itikad baik dalam perundingan perjanjian plastik?" ia menambahkan.

Toxics Program Manager Nexus3 Foundation Nindhita Proboretno pun mengecam dominasi pelobi industri dalam proses negosiasi INC 5.2 yang menggeser fokus dari upaya perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan.

Dominasi pelobi perusahaan minyak, petrokimia, dan plastik dinilai dapat menghadirkan solusi teknis yang dangkal, melemahkan hukum yang harusnya mengikat, atau melemahkan target pengurangan produksi plastik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas