Minyak Terbang karena Perang, Mobil Listrik Selamatkan Negara-negara Eropa

Norsk Elbilforening (NEVA)
Negara-negara Eropa terdepan dalam soal adopsi mobil listrik.
9/3/2026, 17.59 WIB

Dalam waktu 10 hari perang Timur Tengah, harga minyak dunia melambung dari kisaran US$ 70 per barel ke kisaran US$110 per barel. Harga minyak masih berisiko terus naik bahkan bukan tak mungkin mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$150 per barel. Di tengah situasi ini, beberapa negara menuai berkah dari transisi energi yang agresif beberapa tahun belakangan. 

Bila mengacu pada Our World in Data, negara-negara Eropa terdepan dalam soal adopsi mobil listrik. Per 2024 saja, sekitar 32 persen mobil beroperasi di Norwegia berjenis mobil listrik berbasis baterai dan hibrid. Di Islandia, persentasenya mencapai 18 persen, Denmark 17 persen, Swedia 13 persen, kemudian Belanda dan Belgia masing-masing 11 persen.

Mengutip laporan Global EV Outlook 2025, sekitar satu dari lima mobil yang terjual di Eropa pada 2024 lalu merupakan mobil listrik. Penjualan mobil listrik meningkat di 14 dari 27 negara Uni Eropa, namun cenderung stagnan atau turun di negara lainnya. Penurunan antara lain tercatat di Jerman dan Prancis, meskipun capaiannya masih cukup besar, masing-masing 570 ribu dan 450 ribu unit. 

Di luar Eropa, Cina yang merupakan produsen terbesar mobil listrik dunia, mencatatkan 11 persen dari total mobil beroperasi di dalam negerinya adalah mobil listrik. Meski hanya 11 persen, tapi ini signifikan dalam meredam konsumsi BBM negara tersebut, mengingat besarnya pasar otomotif Cina. Jumlah mobil beroperasi di Cina pada 2024 mencapai 353 juta unit, atau dua kali lipat Indonesia. Artinya, lebih dari 38 juta mobil beroperasi di Cina, tidak perlu BBM.  

Penjualan signifikan mobil listrik di Cina terjadi pada 2024, yaitu mencapai 11,3 juta unit, sedangkan total penjualan mobil listrik dunia sekitar 17 juta unit. Ini artinya, mayoritas penjualan mobil listrik dunia terjadi di Cina. Mengutip laporan Global EV Outlook 2025, sejak Juli 2024, penjualan mobil listrik telah melampaui penjualan mobil konvensional di negara tersebut.

Penjualan mobil listrik di Tiongkok terdongkrak oleh kebijakan tukar-tambah. Kebijakan tersebut menawarkan CNY 20.000 atau US$2.750 bagi konsumen yang mengganti mobil lama (konvensional maupun listrik) menjadi mobil listrik baru. Kemudian menawarkan CNY 15.000 atau US$2.050 jika berganti ke mobil konvensional baru.

Sekitar 6,6 juta konsumen ikut mengajukan insentif ini, 60 persen di antaranya memilih membeli mobil listrik. Skema ini yang mendulang banyak partisipasi dari masyarakat, hingga mencapai penjualan 11 juta unit baru pada 2024.  

Anomali Amerika Serikat: Strategi Aman Migas Lewat Invasi

Penjualan mobil listrik di Amerika Serikat masif, terbesar kedua setelah Cina. Namun, jumlah mobil listrik beroperasi belum sampai tiga persen dari total mobil beroperasi. Adopsi mobil listrik kini menemui tantangan seiring Presiden Donald Trump yang pro energi fosil.

Insentif mobil listrik menguap di masa pemerintahan Presiden Trump seiring agenda "Make Amerika Great Again" antara lain dengan menggenjot produksi dan konsumsi minyak dan gas di dalam negerinya. 

Meski begitu, AS kelihatan sudah memperhitungkan kemungkinan krisis energi dunia bila menyerang Iran, dengan lebih dulu menginvasi Venezuela untuk mengamankan pasokan migas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.