RI dan Korsel Kerja Sama Program Pengendalian Metana Senilai Rp354 Miliar
Kementerian Lingkungan Hidup RI bekerja sama dengan pemerintah Korea Selatan dan Global Green Growth Institute (GGGI) menjalankan program pengendalian emisi metana senilai US$20 juta atau sekitar Rp354 miliar.
Metana merupakan gas rumah kaca dengan kemampuan memerangkap panas jauh lebih besar dibanding CO2. Emisi ini banyak berasal dari tambang dan pembangkit batu bara, industri minyak dan gas, serta tumpukan sampah organik di tempat pembuangan akhir.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, penanganan sampah organik menjadi prioritas aksi iklim nasional. Sebab, sebanyak 63 persen sampah di tempat pembuangan akhir merupakan sampah organik yang berpotensi menghasilkan jutaan emisi.
“Melalui program ini, Indonesia berkomitmen untuk menghubungkan solusi praktis di lapangan dengan target penurunan emisi metana yang ambisius,” kata Jumhur, saat peluncuran program tersebut di Jakarta, Kamis (21/5).
Program bernama ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM) ini fokus pada penguatan kebijakan, sistem pemantauan emisi, pengembangan proyek yang layak secara finansial, serta penguatan dialog regional. Indonesia menjadi negara ketiga penerima program ini setelah Malaysia dan Filipina.
Program yang akan berlangsung selama tiga tahun ini merupakan bagian dari inisiatif regional Partnership for ASEAN-ROK Methane Action (Parma) yang didanai pemerintah Korea Selatan. Parma fokus mempertemukan negara-negara ASEAN dengan penyedia solusi dari Korea Selatan.
Duta Besar Misi Republik Korea untuk ASEAN Lee Chul menyebut kerja sama ini sebagai solidaritas regional untuk menekan laju pemanasan global. “Mitigasi metana adalah intervensi paling efektif untuk memberikan dampak jangka pendek bagi iklim dunia,” ujarnya.
Sedangkan Country Representative GGGI Indonesia Rowan Fraser mengatakan, program ini bertujuan memecah kebuntuan antara kebijakan pusat dan eksekusi di lapangan. Fokus utamanya adalah menciptakan sistem yang terukur secara data dan menarik investasi hijau.
“Dengan memperbaiki sistem pengukuran emisi dan merancang skema pembiayaan yang tepat, kita tidak hanya mengurangi dampak gas rumah kaca, tetapi juga menciptakan efisiensi ekonomi dalam pengelolaan sampah di kota-kota besar Indonesia," ucapnya.
Sebelumnya, tim riset dari Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA) merujuk pada data satelit dan stasiun ruang angkasa NASA, melaporkan sederet tempat pembuangan sampah dengan semburan metana terbesar pada 2025. Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, menduduki posisi kedua terbesar dengan 6,3 juta metrik ton emisi metana per jam pada 2025.
Bantargebang hanya "kalah" dari Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina yang menghasilkan sekitar 7,6 metrik ton metana per jam. Ini setara produksi metana PLTU batu bara besar berkapasitas lebih dari 500 megawatt.