Edisi Khusus | Bulan Inklusi Keuangan

Bermodal Rp1 Juta, Bisa Mulai Investasi Hijau dari Mana?

ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nym.
Ilustrasi PLTS
9/10/2026, 13.34 WIB

Di tengah banyaknya masalah lingkungan, bagaimana cara berinvestasi sekaligus berkontribusi bagi keberlanjutan bumi? Bila memiliki dana Rp1 juta misalnya, bisa mulai dari mana?

Perencana keuangan sekaligus Founder Finante Rista Zwestika mengatakan, ada sejumlah instrumen investasi hijau yang bisa dipilih masyarakat dengan modal terjangkau. Pilihannya antara lain reksa dana berbasis environmental, social, and governance (ESG), saham perusahaan dengan praktik bisnis berkelanjutan, dan obligasi hijau.

“Investasi hijau itu bukan hanya untuk orang kaya atau perusahaan besar,” kata Rista kepada Katadata, Jumat (9/10).

Menurut dia, beberapa produk reksa dana berbasis ESG memiliki minimum pembelian yang relatif terjangkau. “Bahkan mulai dari Rp 10.000 atau Rp 100.000, tergantung produknya,” ujarnya.

Dengan modal Rp 1 juta, Rista mencontohkan, investor bisa mengalokasikan Rp 500.000 untuk reksa dana, Rp 300.000 untuk saham perusahaan, dan menyisihkan Rp 200.000 untuk menambah investasi berikutnya.

Namun, sebelum menempatkan dana, investor perlu memahami instrumen yang dipilih, termasuk risiko dan dampaknya terhadap lingkungan. Memilih produk berlabel hijau saja tidak cukup. Investor juga perlu mengetahui ke mana dana ditempatkan dan apakah klaim dampak lingkungannya dapat dibuktikan.

Rista mengingatkan, menempatkan dana pada reksa dana berbasis ESG tidak berarti seluruh dana tersebut dialokasikan untuk membiayai proyek lingkungan. Begitu pula membeli saham perusahaan yang menjalankan bisnis berkelanjutan tidak otomatis membuat dana investor digunakan untuk membiayai proyek hijau.

“Kalau sahamnya dibeli di pasar sekunder, uang kita berpindah kepada investor yang menjual saham tersebut, bukan langsung masuk ke perusahaan,” ujarnya. Karena itu, penting untuk memahami mekanisme instrumen, bukan hanya label produk.

Menurut Rista, investasi hijau sudah bisa menjadi alternatif yang kompetitif, meski belum tentu memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingkan investasi konvensional.

Prospeknya semakin relevan seiring perkembangan transisi energi, regulasi keuangan berkelanjutan, dan meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan. Namun, kinerja investasi tetap bergantung pada kondisi ekonomi dan fundamental bisnis perusahaan atau aset yang mendasarinya.

Perencana keuangan Bareyn Mochaddin juga melihat potensi saham hijau untuk jangka panjang. “Mengingat perusahaannya menerapkan tata kelola yang baik, berkelanjutan, dan cukup diminati banyak orang yang concern pada isu keberlanjutan lingkungan,” kata Bareyn.

Namun, dalam jangka pendek, saham hijau bisa tertinggal ketika permintaan komoditas tertentu, seperti batu bara, meningkat. Dalam kondisi tersebut, saham perusahaan batu bara berpotensi melonjak lebih cepat.

Bareyn mengatakan, kebijakan pemerintah juga memengaruhi prospek saham hijau. Kebijakan yang mendorong penggunaan mobil listrik, misalnya, berpotensi meningkatkan minat investor terhadap saham perusahaan terkait.

Tapi, dia mengingatkan, investor tetap perlu menilai kinerja, tata kelola, dan kualitas produk perusahaan. Produk yang kurang kompetitif dapat kehilangan peminat dan memengaruhi kinerja perusahaan maupun harga sahamnya.

Pastikan Investasi Hijau Bukan Sekadar Gimmick

Bareyn mengatakan, pilihan produk investasi berbasis ESG terus bertambah. Jika satu dekade lalu jumlah reksa dana berbasis ESG bahkan belum mencapai lima produk, kini jumlahnya telah melampaui 30 produk.

Minat investor terhadap investasi berkelanjutan juga disebut meningkat. “Lebih dari 80 persen dari total investor tertarik pada konsep investasi berkelanjutan dan lebih dari 60 persen investor di Indonesia menyatakan sudah mulai menyisihkan modal secara aktif ke produk-produk berwawasan lingkungan,” ujarnya.

Meski begitu, Bareyn mengingatkan calon investor agar mewaspadai greenwashing, yakni ketika perusahaan atau penerbit produk investasi mengklaim aktivitasnya ramah lingkungan atau berkelanjutan, tetapi klaim tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya atau tidak didukung bukti yang memadai.

Dia menyarankan investor untuk memastikan aktivitas ekonomi atau proyek yang didanai memenuhi kriteria hijau sesuai panduan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Investor juga perlu memeriksa transparansi pengelolaan dana, memastikan penggunaannya sesuai dengan tujuan yang dinyatakan, serta mencari verifikasi dari pihak independen. Dengan begitu, investor tidak hanya mengandalkan klaim sepihak dari perusahaan atau penerbit dan pengelola produk investasi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas