Sejumlah saham perbankan jumbo terpantau mulai diborong investor asing pada perdagangan Jumat (20/2). Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling banyak dikoleksi.
Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) BBRI sebanyak 70,03 juta saham dengan nilai Rp 185,18 miliar. Selain BBRI, asing juga membukukan net buy pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebanyak 29,11 juta saham senilai Rp 72,62 miliar.
Investor asing turut membeli saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebanyak 6,67 juta saham dengan nilai Rp 164,94 juta. Juga ada net buy di saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebanyak 3,06 juta saham senilai Rp 1,70 miliar.
Sebaliknya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penjualan bersih (net sell) oleh asing sebesar Rp 108,42 miliar, dengan volume jual bersih 45,81 juta saham.
Aksi investor memborong saham perbankan jumbo terjadi seiring dengan penyampaian laporan keuangan yang sudah dirilis sejumlah bank. Dari sisi fundamental, BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun pada tahun buku 2025, tumbuh 4,9% secara tahunan (year on year/yoy).
Sepanjang Januari–Desember 2025, total kredit BCA dan entitas anak tumbuh 7,7% yoy menjadi Rp 993 triliun. Secara rata-rata, pertumbuhan kredit sepanjang 2025 mencapai 10,8%.
Sementara itu, BBNI mencatatkan pendapatan bunga bersih Rp 40,33 triliun pada 2025, turun 0,36% yoy. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk turun 6,6% yoy menjadi Rp 20,04 triliun. Meski laba tertekan, penyaluran kredit BNI tetap tumbuh 15,9% yoy.
BMRI membukukan laba konsolidasi Rp 56,3 triliun hingga kuartal IV 2025. Kredit konsolidasi tumbuh 13,4% yoy menjadi Rp 1.894 triliun. Adapun BBRI hingga kini belum merilis laporan keuangan tahun buku 2025.
Dampak Revisi Outlook Moody’s untuk Bank Jumbo
Pergerakan saham perbankan tersebut terjadi setelah Moody's Ratings merevisi outlook lima bank besar Indonesia dari stabil menjadi negatif pada 6 Februari lalu. Langkah ini mengikuti revisi outlook utang pemerintah Indonesia. Meski demikian, Moody’s mempertahankan peringkat kredit masing-masing bank.
Moody’s menilai Bank Mandiri masih memiliki permodalan dan profitabilitas yang memadai. Namun, terdapat risiko penurunan modal akibat kebijakan dividen tinggi, tekanan kualitas aset di sejumlah segmen, serta eksposur kredit ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi yang melebihi 200% dari modal inti berwujud (Tangible Common Equity/TCE) per September 2025.
Untuk BRI, Moody’s menyoroti profitabilitas dan permodalan yang sangat kuat. Namun, risiko aset dinilai tetap tinggi karena besarnya eksposur kredit ke segmen mikro dan UMKM. Profitabilitas diperkirakan menurun pada 2026 akibat penyempitan margin bunga bersih dan meningkatnya biaya kredit.
BNI dinilai memiliki struktur pendanaan stabil dan permodalan kuat. Namun, profitabilitas relatif lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya akibat tekanan margin dan persaingan kredit korporasi. Peringkat BNI mendapat tambahan satu tingkat (uplift) berkat probabilitas dukungan pemerintah yang tinggi.
Sementara itu, BCA dinilai tetap memiliki kualitas aset solid dan profitabilitas tinggi, ditopang dominasi di bisnis transaction banking. Namun, profil keuangannya tetap dibatasi oleh peringkat sovereign Indonesia.
Adapun BTN masih menghadapi tantangan kualitas aset, terutama dari tingginya kredit restrukturisasi dan tingkat pencadangan yang dinilai belum memadai. Meski begitu, peringkat BTN mendapat tambahan tiga tingkat berkat peran strategisnya dalam program perumahan nasional dan kepemilikan mayoritas pemerintah.
Moody’s menyebut peluang kenaikan peringkat dalam waktu dekat relatif terbatas selama outlook sovereign Indonesia masih negatif. Outlook bank baru akan kembali stabil apabila peringkat sovereign Indonesia tetap di level Baa2 dengan outlook stabil.