Rupiah Loyo ke 15.716/US$, Pasar Waswas Bunga AS Tak akan Segera Turun

ANTARA FOTO/Putu Indah Savitri/sgd/YU
Ilustrasi.
Penulis: Zahwa Madjid
Editor: Agustiyanti
24/1/2024, 09.53 WIB

Nilai tukar rupiah melemah 0,71% ke level 15.716 per dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Rabu (24/1). Rupiah melemah seiring menguatnya dolar AS karena kemungkinan penurunan bunga AS belum akan dilakukan pada kuartal pertama tahun ini. 

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra menilai pergerakan rupiah terhadap dolar AS terlihat masih berkonsolidasi di atas 15.600 per dolar AS. “Dolar AS masih terlihat lebih kuat dibandingkan 6 nilai tukar utama dunia. Indeks dolar AS tercatat di kisaran 103.5 pagi ini, lebih tinggi dibandingkan pagi sebelumnya yang di kisaran 103.3,” ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (24/1).

Tingkat imbal hasil obligasi AS terutama tenor 10 tahun terlihat masih bertahan naik di kisaran 4.1%. Yield tersebut menyesuaikan ekspektasi pasar soal pemangkasan suku bunga acuan AS yang tidak akan dilakukan terburu-buru.

Selain itu, belum adanya data penting baru mengenai perekonomian AS pekan ini juga memicu pergerakan konsolidatif nilai tukar terhadap dollar AS. “Pelaku pasar menantikan data PDB Q4 dan data Core PCE Price Index, masing-masing di hari Kamis dan Jumat,” ujarnya.

Ia memperkirakan rupiah melemah ke kisaran 15.650-15.680 per dolar AS hari ini dengan potensi support di kisaran 15.600.

Direktur PT Laba Forexindo Ibrahim Assuaibi menilai, alat CME Fedwatch menunjukkan para pedagang sekarang memperkirakan adanya peluang lebih besar bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga stabil pada bulan Maret. Ini merupakan pembalikan nyata dari ekspektasi penurunan suku bunga sebelumnya.

“Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan minggu depan. Namun sebelum The Fed, pasar harus bersaing dengan data ekonomi utama AS minggu ini, ”ujar Ibrahim dalam risetnya.

Data PDB kuartal keempat yang dirilis pada hari Kamis diperkirakan akan menunjukkan penurunan pertumbuhan, sementara data indeks harga PCE yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed akan dirilis pada hari Jumat, dan kemungkinan akan menegaskan kembali bahwa inflasi tetap stabil di bulan Desember.

“Suku bunga AS yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama merupakan pertanda buruk bagi mata uang Asia, mengingat negara-negara tersebut menarik modal dari aset-aset yang berisiko tinggi dan berimbal hasil tinggi,” ujarnya.

Nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS bergerak melemah. Melansir Bloomberg, baht Thailand melemah 0,44%, ringgit Malaysia melemah 0,18%, yuan Cina melemah 0,02%, rupee India melemah 0,11%, peso Filipina melemah 0,22%, dan dolar Hong Kong melemah 0,02%.

Reporter: Zahwa Madjid