Purbaya Terima 15.933 Aduan Masyarakat, Terbanyak Keluhan Soal Bea Cukai

Katadata
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
18/10/2025, 06.46 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan telah menerima 15.933 aduan masyarakat melalui kanal pesan singkat WhatsApp “Lapor Pak Purbaya”. Dari jumlah tersebut, sebagian besar laporan menyoroti kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

“15.933 WA yang masuk ke kita, yang ucapan selamat ada 2.459 (pesan). Muji-muji lah, lumayanlah. Sisanya 13.285 (aduan) sedang diverifikasi. Ini ada 10 yang mau dikerjakan,” ujar Purbaya di Jakarta, Jumat (17/10).

Ia menuturkan, sebagian besar aduan menyangkut perilaku pegawai Bea Cukai di lapangan yang dinilai tidak mencerminkan integritas aparatur negara.

Salah satu laporan yang dibacakan Purbaya berasal dari seorang wiraswasta yang merasa risih melihat sekelompok petugas Bea Cukai berkumpul di sebuah jaringan kedai kopi ternama sambil membicarakan urusan pribadi dan bisnis.

“Yang dibicarakan selalu tentang bisnis aset, bagaimana mengamankan aset, baru dapat kiriman mobil bagaimana, jualnya bagaimana. Mohon diawasi dan ditindak," katanya.

Dalam pesan yang dibacakan Purbaya, pelapor yang merupakan seorang wiraswasta menyampaikan bahwa ia merasa risih melihat para petugas Bea Cukai sering bergerombol dan berbicara keras-keras seharian di kedai kopi sambil mengenakan baju dinas.

Menanggapi laporan itu, Purbaya menegaskan tidak akan menolerir praktik semacam itu dan akan bertindak tegas terhadap pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Jadi saya baru tahu, walaupun kita sudah menggebrak-gebrak, masih di bawah seperti ini. Artinya mereka enggak peduli, dianggapnya saya main-main. Bilang, hari Senin depan, kalau ada yang ketemu begini lagi, saya akan pecat,” katanya.

Selain perilaku oknum, sejumlah aduan juga menyoroti peredaran barang ilegal, khususnya rokok tanpa cukai di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

Dalam laporan yang dibacakan, masyarakat menilai pengawasan aparat Bea Cukai setempat tidak menyentuh akar masalah, yakni para distributor besar atau cukong. Sebaliknya, razia justru sering menyasar warung kecil.

“Mereka (petugas) Bea Cukai seperti tutup mata dan telinga. Padahal harusnya distributor besar ini yang dibasmi, bukan warung-warung kecil yang hanya sekadar menyambung hidup, walaupun itu salah," ujarnya.

Dalam laporan yang dibacakan Purbaya, pelapor berharap Kementerian Keuangan dapat menindaklanjuti kasus tersebut karena menilai telah terjadi pembiaran oleh Bea Cukai, sementara para cukong masih tetap beroperasi hingga saat ini.

Laporan Akan Segera Ditindaklanjuti

Purbaya menegaskan laporan-laporan tersebut akan segera ditindaklanjuti. Kementerian Keuangan telah membentuk tim khusus yang terdiri dari staf ahli Dirjen Bea Cukai dan Direktorat Jenderal Pajak untuk memverifikasi dan menuntaskan aduan.

“Mereka punya pengalaman cukup banyak. Mereka akan list siapa saja orang Bea Cukai dan cukong-cukongnya di setiap daerah. Kalau nanti ada gangguan atau barang ilegal masuk yang terhubung ke cukong tersebut, cukongnya akan kita proses,” ujarnya.

Purbaya menekankan bahwa upaya penertiban tidak hanya menyasar tindakan individual, tetapi juga pembenahan budaya organisasi di seluruh jajaran Kementerian Keuangan.

Ia menilai kanal pengaduan langsung dari masyarakat menjadi mekanisme penting untuk memperkuat pengawasan publik dan mempercepat reformasi birokrasi.

“Masukan seperti ini amat berguna buat kita, dan kita akan follow up. Enggak main-main. Saya harapkan dengan begitu, governance culture di Bea Cukai bisa berubah,” ujarnya. 

Sebagai informasi, layanan “Lapor Pak Purbaya” dibuka untuk menampung keluhan masyarakat terkait pajak dan bea cukai. Masyarakat dapat mengirimkan pesan langsung melalui WhatsApp ke nomor 082240406600.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti, Antara