Rupiah Berpotensi Menguat Didorong Data Ekonomi AS yang Lesu

Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer, Melawai, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.009 dari sebelumnya sebelumnya di level Rp17.963 per dolar AS.
31/7/2026, 09.42 WIB

Rupiah mengawali perdagangan akhir pekan ini dengan pergerakan yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini Jumat (31/7).

Melansir dari Bloomberg, mata uang Garuda itu membuka perdagangan di level Rp 18.073 per dolar AS menguat 0,20% atau 37 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.10 WIB, rupiah kian menguat berada di level Rp 18.053 per dolar AS naik 0,32% atau 58 poin. 

Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup terdepresiasi 38 poin atau 0,21% ke level Rp 18.111 per dollar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah menutup perdagangan dengan pelemahan yang lebih dalam dibandingkan saat pembukaan yang berada di posisi Rp 18.063 per dollar AS, terkoreksi 10 poin atau 0,06%.

Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (31/7). Penguatan mata uang Garuda ditopang pelemahan dolar AS setelah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, dolar AS mengalami tekanan setelah dua indikator utama ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan yang lebih dalam dibandingkan perkiraan.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data inflasi PCE dan PDB AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan," kata Lukman kepada Katadata, Jumat (31/7).

Meski demikian, ia menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas. Pasalnya, pelaku pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Selain faktor eksternal tersebut, sentimen domestik juga dinilai belum cukup kuat untuk menopang penguatan rupiah secara signifikan.

"Namun penguatan mungkin terbatas oleh eskalasi di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia serta sentimen domestik yang masih lemah," ujarnya.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Pelemahan dolar AS terjadi setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa perlambatan inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS dapat membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih akomodatif ke depan.

Namun di sisi lain, konflik yang kembali memanas di Timur Tengah terus menopang harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan memicu kembali sentimen risk-off di pasar keuangan, sehingga membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan transisi kepemimpinan di Bank Indonesia setelah pengunduran diri Gubernur Perry Warjiyo. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati meski tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah