Era Baru Bunga Tinggi, Yield Obligasi Pemerintah AS Kembali Tembus 5%

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.
Ilustrasi.
Penulis: Agustiyanti
25/9/2026, 14.43 WIB

Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS terus melonjak hingga kembali mencetak rekor tertinggi menembus 5%. Situasi ini dinilai bukan sekadar kemerosotan pasar obligasi, tetapi sebuah pergeseran yang bersifat fundamental.

Berbagai faktor telah bergabung mendorong kenaikan biaya pinjaman pemerintah, mulai dari harga minyak yang mencapai US$ 100 per barel, lonjakan belanja kecerdasan buatan (AI), hingga defisit anggaran AS yang kian melebar. Kondisi ini menambah beban utang yang telah mencapai rekor US$ 40 triliun.

Seluruh kondisi ini terjadi di tengah langkah The Federal Reserve yang bertekad meredam inflasi yang telah jauh melampaui target selama bertahun-tahun.

Tekanan jual meningkat pekan ini seiring lonjakan kembali harga energi dan data yang menunjukkan aktivitas bisnis AS tetap berjalan kuat. Kondisi ini memberikan alasan tambahan bagi bank sentral yang memang sudah bersikap hawkish, untuk terus menaikkan suku bunga.

Saat ini, hampir seluruh imbal hasil obligasi acuan AS bergerak di kisaran atau di atas level 5%, dengan obligasi pemerintah AS tenor lima tahun melampaui ambang batas tersebut pada hari Rabu untuk pertama kalinya sejak tahun 2007.

"Kita berada dalam rezim baru," ujar Samuel Martinez, manajer portofolio di Vanguard, raksasa investasi yang mengelola aset lebih dari US$ 13 triliun secara global. 

Obligasi pemerintah AS (Treasuries) menjadi tolok ukur global bagi biaya utang. Jika biaya pinjaman atau imbal hasil (yield) semakin mahal, tekanan terhadap para peminjam bisa meningkat, bahkan mengganggu perekonomian serta mengakhiri reli panjang saham AS.

Kenaikan yield ini merupakan bagian dari tren yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir, menadakan bahwa dunia semakin meninggalkan era suku bunga sangat rendah yang terjadi setelah krisis keuangan global dan pandemi. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kerugian bagi investor obligasi, tetapi juga membuat generasi baru pelaku pasar Wall Street harus menghadapi kondisi ketika yield  obligasi 5% menjadi sesuatu yang normal.

“Periode sebelumnya justru merupakan kondisi yang tidak normal,” kata Vincent Reinhart, kepala ekonom dan ahli strategi makro di BNY Mellon, yang sebelumnya lama berkarier di Federal Reserve.

Masalah ini tidak hanya terjadi di AS. Sejumlah negara besar lainnya juga menghadapi persoalan serupa, termasuk dampak gangguan energi akibat perang Iran dan tingginya utang pemerintah. Kenaikan utang ikut mendorong yield semakin tinggi sepanjang tahun ini.

Pada Kamis, yield obligasi pemerintah Jepang melonjak ke level tertinggi sejak 1996 setelah pasar kembali dibuka usai libur tiga hari. Pasar obligasi negara-negara besar lainnya juga mengalami tekanan.

Secara keseluruhan, rata-rata yield surat utang pemerintah di seluruh dunia kini mendekati 4%, level tertinggi sejak 2007 berdasarkan Bloomberg Global Aggregate Treasuries Index. Di pasar US Treasury yang nilainya mencapai sekitar US$ 32 triliun, rata-rata yield mencapai 5,05%, mendekati level tertinggi pada 2023.

Kenaikan yield ini menjadi masalah bagi pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang selama ini mendorong suku bunga dan biaya pinjaman yang lebih rendah agar dapat meringankan beban pemilik rumah dan debitur. Pemerintahan Trump juga berulang kali mengkritik kebijakan Th Federal Reserve.

Upaya Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk menekan kenaikan yield obligasi jangka panjang melalui peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah sejauh ini belum banyak memberikan hasil. Sejumlah pihak bahkan menilai kebijakan tersebut justru dapat menambah ketidakstabilan pasar.

Dengan pemilu sela AS yang semakin dekat dan persoalan keterjangkauan biaya hidup yang semakin menjadi perhatian, kenaikan yield mulai berubah menjadi isu politik di AS.

Suku bunga kredit pemilikan rumah atau mortgage rate kini berada di atas 7%. Sementara itu, data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan tunggakan pembayaran kartu kredit dan kredit kendaraan cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Kondisi ini menjadi kabar buruk bagi siapa pun yang memiliki utang kartu kredit, kredit kendaraan, atau ingin mengambil KPR,” kata Douglas Holtz-Eakin, presiden American Action Forum dan mantan kepala Congressional Budget Office. Menurut dia, masyarakat berada di posisi yang dirugikan oleh kondisi tersebut.

Namun, para pelaku pasar menilai kenaikan yield terjadi karena alasan yang cukup kuat. Kondisi fundamental ekonomi AS dianggap mendukung tingkat yield tersebut. Ekonomi AS tumbuh lebih dari 6% secara nominal, sedangkan defisit anggaran mencapai sekitar 5,5% dari produk domestik bruto (PDB) berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg.

Sebagian pelaku pasar bahkan memperkirakan yield akan naik lebih tinggi. Lebih dari separuh dari 173 responden dalam survei Markets Pulse pekan ini memperkirakan yield obligasi AS bertenor 30 tahun akan mencapai 6% sebelum akhir tahun. Level tersebut terakhir kali terlihat setelah pecahnya gelembung saham perusahaan teknologi pada awal 2000-an.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.