Premis Pemikiran Thanos: Fiksi atau Realita?

Azaria Anggana Laras

22 Juni 2018 | 11:14

Beberapa hasil riset mengungkapkan bahwa kelaparan global bukan semata-mata disebabkan oleh tingginya jumlah populasi di bumi.

Di dunia sastra dan sinematografi, tak sedikit kita menemukan kisah yang menggambarkan sebuah kondisi masyarakat dengan kualitas hidup yang buruk dan suram (distopia). Beberapa prosa yang mengadopsi distopia, pandangan pesimistis yang pertama kali dikenalkan oleh Sir Thomas More pada 1516, di antaranya adalah novel 1984 karya George Orwell dan Inferno karya Dan Brown. 

Film terbaru produksi Marvel, Avengers: Infinity War juga mengadopsi distopia. Di film Avengers: Infinity War, tokoh antagonis Thanos memiliki premis atau pemikiran bahwa populasi (alam) semesta sudah melebihi kapasitasnya. Apabila dibiarkan begitu saja maka akan terjadi bencana global, seperti krisis pangan dan kelaparan berkepanjangan.

Boleh jadi prosa-prosa dan film tersebut sejalan dengan pemikiran Thomas Malthus, seorang ekonom asal Inggris yang mempublikasikan esai berjudul ‘An Essay on the Principle of Population’ pada 1798. Malthus menyebutkan bahwa jika populasi global terus bertambah melebihi ketersediaan pangan, maka akan berimbas pada wabah kelaparan global.

Pertanyaannya, bagaimana kondisi populasi global dan ketahanan pangan di dunia nyata saat ini?

Our World in Data menyebutkan saat ini bumi dihuni oleh 7,8 miliar jiwa atau berselisih 2,2 miliar dengan jumlah tampung kritis bumi menurut ilmuwan sosiobiologi dari Harvard University, Edward Wilson. Sejak permulaan abad 20, jumlah populasi mulai bertambah signifikan. Puncaknya terjadi pada 1963, populasi bertambah menjadi 3 miliar jiwa dengan laju pertumbuhan populasi sebesar 2,2%.

Meskipun angka laju pertumbuhan populasi terus berkurang setelahnya, jumlah pertambahan populasi absolut per tahun masih berada dalam kisaran rata-rata 80 juta jiwa. Secara geografis, negara-negara yang pertumbuhan populasinya melambat hingga mendekati nol atau negatif berada di Eropa Barat dan Eropa Tengah. Sementara pertambahan populasi secara masif dialami oleh negara-negara di benua Afrika. Republik Nigeria contohnya, pada 2015 laju pertumbuhan populasi penduduknya dilaporkan sebesar 4% — rekor angka pertumbuhan tertinggi pada tahun tersebut. Negara tetangganya, Republik Mali, sedikit lebih baik, yakni dengan laju pertumbuhan populasi 3,34%.

Angka kebutuhan pangan pasti meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah mulut manusia yang membutuhkan asupan. Untuk mengukur ketersediaan dan kemampuan seseorang mengakses bahan pangan, The Economist Intelligence Unit melakukan penelitian mengenai ketahanan pangan global setiap tahunnya.

Dalam enam tahun terakhir, negara-negara di Amerika Utara dan Eropa mendominasi peringkat 10 teratas negara dengan indeks ketahanan pangan tertinggi — semakin tinggi peringkat, semakin aman dan baik ketahanan pangannya. Hanya satu negara di Asia yang berhasil menempati posisi 10 teratas, yakni Singapura (sejak 2014). Sementara peringkat 10 terbawah ditempati oleh negara-negara Afrika. Republik Kongo dan Burundi sama-sama pernah menempati posisi terakhir dalam pengurutan tersebut, nilai ketahanan pangan mereka berada dalam rentang 18,4-30,5.

Dalam rentang enam tahun (2012-2017) hasil rerata setiap tahun menunjukkan tren meningkat. Pada 2012, nilai indeks ketahanan pangan global sebesar 53,7 untuk 105 negara, kemudian pada 2013 menjadi 53,5 untuk 107 negara. Selanjutnya pada 2014 menjadi 56,1 untuk 109 negara, meningkat lagi menjadi 57,3 untuk 109 negara, dan pada 2016-2017 nilai tersebut bertahan pada 57,3 untuk 113 negara.

Karena tren meningkat tersebut, secara umum terdapat indikasi terjadi perbaikan dalam ketahanan pangan di dunia. Indeks ketahanan pangan tersebut memperhitungkan aspek ketersediaan, keterjangkauan, serta kualitas dan keamanan pangan.

Indikasi serupa juga ditunjukkan oleh data indeks kelaparan global dari International Food Policy Research Institute. Dalam rentang 15 tahun, rerata nilai indeks kelaparan global terus turun hingga mencapai angka 17,26 (118 negara) pada 2016. Sayangnya, data sementara untuk 2017 (105 negara) menyumbang 2,18 poin tambahan pada indeks tersebut menjadi 19,44.

Dari paparan data populasi global, ketahanan pangan, dan kelaparan global, terlihat bahwa sementara populasi terus meningkat, ketahanan pangan dan indeks kelaparan global mengalami perbaikan. Namun, bila ditinjau lebih jauh dengan membandingkan data laju pertumbuhan dengan indeks kelaparan global, terlihat bahwa negara-negara dengan laju pertumbuhan penduduk tinggi cenderung memiliki nilai indeks kelaparan global yang tinggi. Artinya negara dengan laju pertumbuhan penduduk tinggi cenderung lebih rawan terhadap masalah kelaparan serta terdapat indikasi adanya korelasi antara laju pertumbuhan penduduk dan masalah kelaparan.

Meski demikian, beberapa hasil riset mengungkapkan bahwa kelaparan global bukan semata-mata disebabkan oleh masalah banyaknya populasi di bumi. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang ketahanan pangan dan nutrisi dunia, menyebutkan bahwa meningkatnya kelaparan global dua tahun terakhir disebabkan oleh konflik dan perubahan iklim. Kemiskinan, akses menuju pasar, sistem kesehatan dan politik juga dapat berkontribusi menyuburkan masalah kelaparan.

Terlepas dari konteks kelaparan, tidak dapat dimungkiri bahwa jumlah populasi telah menimbulkan permasalahan serius lainnya seperti degradasi kualitas lingkungan. Dampaknya pun sudah terasa sangat nyata – perubahan iklim. Hingga kini, jumlah populasi (dan kualitasnya) termasuk dalam serangkaian mata rantai masalah global. Hal ini apabila tidak dibenahi, bukan tidak mungkin distopia tidak hanya sekedar fiksi belaka, tapi realita.

 ***

Azaria Anggana Laras