Jalan Terjal Mengejar Target Pertumbuhan Ekonomi

Nazmi Haddyat Tamara

11 November 2018 | 08:09

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan kembali meleset dari target. Beberapa mesin utama penggerak ekonomi malah berjalan lambat, bahkan surut.

Ekonomi

 

Harapan pemerintah meraih target pertumbuhan ekonomi tahun ini terancam kandas. Beberapa indikator pengerek laju ekonomi masih belum membaik. Industri pengolahan yang memiliki kontribusi terbesar bagi perekonomian juga tumbuh di bawah rata-rata.

Awal pekan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 sebesar 5,17% secara tahunan. Meski lebih rendah dari kuartal II 2018 yang sebesar 5,27%, pertumbuhan ekonomi kuartal III ini merupakan yang tertinggi pada periode sama selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Lebih dari separuh ekonomi Indonesia berasal dari konsumsi masyarakat yakni 55,26%. Selanjutnya, investasi 32% yang juga diharapkan menggerakkan roda ekonomi.

Jadi, melambatnya pertumbuhan ekonomi kuartal III dibandingkan kuartal sebelumya sangat dipengaruhi oleh kondisi konsumsi rumah tangga. Pos pengeluaran ini pada kuartal III tumbuh 5,01% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,14%. Konsumsi rumah tangga pun tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan nasional.

Melambatnya mesin-mesin utama ekonomi nasional juga tercermin dari pertumbuhan berdasarkan sektor lapangan usaha. Industri pengolahan yang memiliki kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu 19%, pada kuartal III 2018 hanya tumbuh 4,33% alias di bawah rata-rata pertumbuhan nasional.

Pertanian juga mengalami nasib serupa. Sektor ini hanya tumbuh 3,62%, padahal kontribusinya mencapai 13,53%. Sedangkan lompatan pertumbuhan justru dicapai sektor usaha yang kontribusinya masih kecil, misalnya sector Informasi dan Komunikasi yang tumbuh hampir 2 digit namun kontribusinya terhadap total perekonomian hanya 3,75%.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut, ketika sektor industri hanya tumbuh di bawah rata-rata, maka akan sulit diharapkan terjadinya akselerasi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Momok Defisit Perdagangan

Masalah lain berasal dari perdagangan internasional Indonesia. Pada kuartal III 2018, ekspor barang dan jasa tumbuh 7,52% secara tahunan, jauh melambat dibandingkan periode sama 2017 yang mencapai 17,26%.

Sedangkan pertumbuhan impor 14,06%, hanya sedikit melambat dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 15,09%. Alhasil, defisit neraca perdagangan tak bisa dihindari.

Seiring kondisi tersebut, net ekspor berkontribusi negatif 1,1% terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III. “Defisit neraca dagang jadi salah satu kendala untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita karena impor jadi faktor pengurang," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Melebarnya defisit perdagangan sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Harga minyak yang melambung tinggi menjadi salah satu penyebabnya. Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia yang bergantung pada komoditas juga belum membaik. Kondisi tersebut turut menekan pelemahan mata uang rupiah semakin dalam.

Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk meredam defisit dan memperkuat rupiah. Beberapa kebijakan pengendalian impor yang diterapkan pemerintah antara lain kewajiban biodiesel 20% dan kenaikan tarif pajak penghasilan (PPh) impor berbagai barang konsumsi.

Namun, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira melihat upaya itu belum cukup untuk mengerem impor. Apalagi, loyonya ekspor masih akan berlanjut ke kuartal terakhir tahun ini. Ini membuat semakin kecilnya peluang pertumbuhan ekonomi melaju pada akhir tahun ini.

Arus Investasi Tersendat

Faktor lain yang membuat laju ekonomi tahun ini tersendat adalah perlambatan investasi. Padahal, sejak tahun sebelumnya, investasi menjadi penopang ekonomi di saat pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat dan neraca dagang defisit.

Hingga kuartal III-2018, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 89,1 triliun. Jumlahnya turun 20,2% dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 111,7 triliun. Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru melesat 30,5% menjadi Rp 84,7 triliun.

Realisasi investasi kuartal III 2018 turun tipis 1,6 % dibandingkan periode sama tahun lalu menjadi Rp 173,8 triliun. Namun, total realisasi investasi sepanjang Januari-September 2018 sebesar Rp 535,4 triliun atau naik 4,3 % dari tahun sebelumnya.

Menurunnya investasi asing ke Indonesia disinyalir akibat kombinasi faktor eksternal dan internal. Selain ketidakpastian ekonomi global yang membuat investor wait and see, kondisi internal pun tidak kondusif. Kebijakan pro-investasi yang dijalankan pemerintah kurang ampuh mendatangkan dana segar dari luar negeri.

Di sisi lain, peringkat kemudahan investasi atau Ease of Doing Business (EoDB) Indonesia versi Bank Dunia mengalami penurunan dari 73 menjadi 72 dari total 190 negara. Indonesia berada di bawah Peru, Vietnam, Kirgistan, Ukraina, dan Yunani.

Dengan kondisi tersebut, kemungkinan realisasi tahun depan tetap menurun. Dampak turunnya investasi akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

"Pengaruh ke pertumbuhan ekonomi, sangat-sangat, investasi kira-kira 32% (kontribusinya). Jadi, investasi melambat akan mempengaruhi total pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah," ujar Kepala BKPM Thomas T. Lembong seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Sulit Capai Target

Menilik data-data di atas, tugas pemerintah untuk mendongkrak ekonomi akan semakin berat. Realisasi pertumbuhan hingga akhir tahun nanti diprediksi semakin menjauh dari target yang ditetapkan.


Tahun Realisasi Target APBN Target RPJMN
2015 4.88 % 5.8 % 5.8 %
2016 5.03 % 5.3 % 6.6 %
2017 5.07 % 5.2 % 7.1 %
2018 5.17 %* 5.4 % 7.5 %
*Hingga kuartal III

Realisasi yang meleset bukan pertama kali terjadi. Beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi selalu di bawah target yang dicanangkan. Tak hanya meleset dari target dalam APBN, angka realisasi juga semakin menjauh dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

***


Nazmi Haddyat Tamara adalah Data Analyst dan Statistician Katadata. Saat ini, dia mengisi posisi tim Data pada divisi Riset dan Data Katadata. Menempuh pendidikan pada jurusan Statistika IPB dan telah berpengalaman dalam pengolahan dan analisis data pada berbagai topik.