Darurat Covid-19 di Bangkalan

Kabupaten Bangkalan, Madura mengalami darurat Covid-19 pasca-Lebaran. Kasus aktif Covid-19 di sana mengalami lonjakan hingga 784% dalam sebulan.
Dwi Hadya Jayani
10 Juni 2021, 14:10

Kasus Covid-19 mulai bermunculan setelah libur Lebaran. Setelah Kabupaten Kudus, darurat Covid-19 juga terjadi di Kabupaten Bangkalan.

Hingga 8 Juni 2022, rata-rata sepekan kasus baru di Bangkalan mencapai 24 kasus per hari. Beban perawatan Covid-19 pun membengkak karena kasus aktif di wilayah ini melonjak hingga 784,6% selama sebulan. (Baca: Batal Naik Haji karena Pandemi)

Juru bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Agus Sugianto Zain mengatakan, banyak pasien Covid-19 tidak bisa bertahan lama dan kemudian meninggal dunia usai mendapat perawatan. Tercatat terdapat rata-rata dua kematian selama sepekan terakhir. Adapun dalam sebulan tercatat kenaikan angka kematian sebesar 12%.

Kondisi ini berdampak terhadap fasilitas kesehatan di kabupaten yang terleyak di paling barat Pulau Madura tersebut. Puskesmas Arisboya, Puskesmas Tangguh, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syarifah Ambami Rato Ebu terpaksa menutup sementara layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD). (Baca: Vaksin Ampuh Lawan Varian Baru Corona)

Tidak hanya fasilitas kesehatan, tiga tenaga kesehatan dikabarkan meninggal dunia dan 76 terkonfirmasi positif. Oleh karenanya, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Herlina Ferliana meminta tujuh rumah sakit di Surabaya menerima rujukan pasien Covid-19 yang berasal dari daerah Bangkalan.

"Meminta kesediaan direktur rumah sakit untuk menerima rujukan dan memberi fasilitas perawatan pasien kondisi klinis berat dari wilayah Bangkalan," demikian tertulis dalam surat resmi yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surabaya, Kadinkes Kabupaten Bangkalan, dan direktur tujuh rumah sakit penyangga pada Senin, 7 Juni 2021.

Melonjaknya kasus dipicu dari pergerakan masyarakat pasca-mudik Lebaran 2021 dan kepulangan pekerja migran. Perilaku masyarakat yang menganggap kebal dari Covid-19 sehingga mengabaikan protokol kesehatan juga menjadi faktor pendorong dari kenaikan kasus. (Baca: Lalai Protokol Kesehatan Membawa Sengsara di India)

Masyarakat pun terlambat untuk dirawat di rumah sakit. Mereka akan ke rumah sakit ketika sudah menunjukkan gejala berat. Hal ini membuat beban pelayanan kesehatan semakin bertambah.

"Ini kan menyangkut perilaku, tentang nilai-nilai kesehatan. Artinya ketika sakit parah, masyarakat baru datang ke rumah sakit," kata Agus seperti dikutip dari Kompas Senin, 7 Juni 2021.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.