Pesan Khusus Menteri Rini dalam Penentuan Lokasi Smelter Freeport

Menteri BUMN mengusulkan agar lokasi pembangunan smelter memiliki sumber daya listrik yang besar.
Image title
Oleh Fariha Sulmaihati
1 Februari 2019, 21:17
Freeport
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Area pengolahan mineral PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua.

Lokasi pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) PT Freeport Indonesia hingga kini belum ada kepastian. Saat ini, penentuan lokasi tersebut masih dalam kajian.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Fajar Harry Sampurno mengatakan ada tiga opsi lokasi pembangunan smelter Freeport, yakni Papua, Nusa Tenggara Barat dan Gresik, Jawa Timur. “Jadi tiga tempat itu dikaji,” ujar dia di Jakarta, Jumat (1/2).

Menurut Fajar ada pesan khusus dari Menteri BUMN Rini Soemarno mengenai lokasi pembangunan smelter tersebut, yakni ketersediaan listrik untuk operasional smelter. Jadi, lokasi pembangunan smelter itu harus memiliki cadangan listrik yang besar karena butuh listrik banyak

Salah satu opsi sumber listrik itu bisa dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Ini karena sumber listrik dari PLTA tergolong murah.

Meski belum ada kepastian lokasi, Fajar menargetkan smelter bisa terbangun lima tahun lagi. “Gresik kan sekarang 30-40 persen. Jadi ini tambah baru,” ujar dia.

Berdasarkan laporan kuartal IV tahun 2018 yang diterbitkan Freeport McMoran, biaya pembangunan smelter itu akan ditanggung masing-masing pemegang saham. “Smelter baru akan ditanggung pemegang saham PTFI sesuai dengan persentase kepemilikan saham jangka panjang masing-masing," dikutip Senin (28/1).

(Baca: Inalum Ikut Patungan Bangun Smelter Baru Freeport)

Freeport McMoran memiliki saham sebesar 48,76%, dan Inalum atau kepemilikan Indonesia sebesar 51,24%.  Adapun, total investasi membangun smelter tersebut yakni US$ 3 miliar atau Rp 42,2 triliun

 

Video Pilihan

Artikel Terkait