Inalum Sah Kuasai 51,2% Saham Freeport, Jokowi: Ini Momen Bersejarah

Jokowi berharap dengan kepemilikan mayoritas itu, tambang Freeport bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Ameidyo Daud Nasution
21 Desember 2018, 16:59
Jokowi Freeport
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Presiden Joko Widodo (tengah) berjabat tangan dengan CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson (kedua kanan) disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri), Menteri ESDM Ignasius Jonan (kedua kiri) dan Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Budi Gunadi Sadikin seusai memberikan keterangan terkait pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (21/12/2018). Presiden mengumumkan pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia dengan membayarkan 3,85 miliar dolar AS atau sekitar

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) akhirnya melunasi pembayaran divestasi saham PT Freeport Indonesia. Dengan begitu, maka 51,2% saham perusahaan asal Amerika Serikat itu beralih ke Inalum.

Peralihan saham itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta. Hadir dalam pengumuman ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin, CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson

Presiden Jokowi Widodo mengatakan ini merupakan momen bersejarah karena sejak Freeport beroperasi 1973, baru kali ini Indonesia memiliki saham lebih dari 50%. “Saya baru saja menerima laporan dari seluruh menteri terkait, Direktur Utama Inalum dan CEO Freeport McMoran, disampaikan bahwa 51,2% saham PT Freeport Indonesia  sudah beralih ke Inalum dan lunas dibayar,” kata dia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (21/12).

Jokowi juga memastikan masalah lingkungan dan permasalahan mengenai pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) sudah selesai. Sehingga, Inalum tinggal bekerja sama dengan Freeport.

Advertisement

Jokowi berharap kepemilikan mayoritas itu bisa bermanfaat sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pendapatan baik dari pajak atau nonpajak, dan royalti pun diharapkan bisa lebih baik dari sebelumnya.

Tak hanya Inalum, pemerintah daerah pun mendapatkan 10% saham PT Freeport Indonesia. Harapannya, itu bisa berdampak bagi perekonomian pemerintah daerah. “Tentu saja Papua juga akan mendapat pajak daerah,” ujar dia.

Inalum  membayar US$ 3,85 miliar kepada PT Freeport Indonesia demi memiliki 51% saham. Perinciannya sebanyak US$ 3,5 miliar dialokasikan untuk pembayaran 40% hak partisipasi Rio Tinto dan US$ 350 juta untuk Indocopper. Adapun, pendanaan untuk membayar saham itu berasal dari dana obligasi sebesar US$ 4 miliar. 

Dari 51,2% saham PTFI yang dimiliki Indonesia, Inalum akan memiliki secara langsung sebesar 26,2%. Sisanya sekitar 25% dimiliki PT Indocopper Investama (PTII). Adapun, saham Indocopper akan dimiliki Inalum sebesar 60% dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Papua sebesar 40%.

Saham BUMD Papua dimiliki oleh Pemprov Papua sebesar 30% dan Pemkab Mimika 70%. Sehingga jika dikonversi, kepemilikan saham PTFI oleh Pemprov Papua adalah 3% dan Pemkab Mimika sebesar 7%. Dengan demikian BUMD Papua akan memiliki 10% saham PTFI.

Penggunaan Indocopper itu sudah sesuai dengan kesepakatan induk yang ditandatangani pada tanggal 12 Januari 2018 antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Mimika dan INALUM tentang Pengambilan Saham Divestasi PTFI. Indocopper saat ini memiliki 9,36% saham di PTFI.

(Baca: Inalum Jamin Perusahaan Patungan dengan Papua Tak Terafiliasi Bakrie)

Berdasarkan lembar fakta Inalum, PTII telah berganti nama menjadi PT Indonesia Papua Metal dan Mineral. “PTII tidak lagi terafiliasi dengan pengusaha Aburizal Bakrie sejak tahun 2002 setelah Freeport McMoRan mengambilalih 100% perusahaan tersebut,” dikutip Jumat (21/12).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait