Ingin Perpanjang Kontrak, Kontraktor Migas Harus Jaga Investasi

"Menteri bilang kalau di tahun terakhir tetap investasi dan tetap menjaga produksi maka prospeknya dipertimbangkan untuk diperpanjang kontraknya,"
Anggita Rezki Amelia
7 Juli 2017, 11:18
Migas
Dok. Chevron

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang perpanjangan kepada kontraktor minyak dan gas bumi (migas) yang kontraknya akan berakhir. Syaratnya, mereka harus berinvestasi di masa akhir sebelum kontrak habis.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengatakan investasi di akhir masa kontrak habis itu penting untuk menjadi produksi. "Menteri bilang kalau di tahun terakhir tetap investasi dan tetap menjaga produksi maka prospeknya dipertimbangkan untuk diperpanjang kontraknya," kata dia di Jakarta, Kamis (6/7).

(Baca: Jonan Buat Aturan Jaga Investasi Blok Migas yang Akan Habis Kontrak)

Pemerintah juga menjamin investasi yang dikeluarkan kontraktor tersebut akan kembali. Apalagi saat ini ada Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 tahun 2017 mengenai mekanisme pengembalian biaya investasi pada kegiatan usaha hulu migas.

Advertisement

Dalam aturan tersebut, jika kontrak tidak diperpanjang, investasi yang sudah dikeluarkan akan ditanggung  kontraktor baru. Jadi, kontraktor yang akan berakhir kontraknya ini tidak perlu khawatir berinvestasi di masa akhir kontraknya.

Amien mencontohkan Blok Rokan yang saat ini dikelola oleh Chevron. Blok tersebut kini memasuki fase terakhir karena 2021, kontrak blok tersebut akan habis. (Baca: Chevron Dapat Perpanjang Kontrak Blok Rokan Asal Pakai Gross Split)

Hingga kini Menteri ESDM memang belum memutuskan pengelolaan blok tersebut usai kontrak berakhir. Namun, apabila kontrak Chevron tidak diperpanjang dan diserahkan ke Pertamina, maka perusahaan pelat merah itu yang akan menanggung investasinya.  

Jika Chevron mendapatkan perpajangan maka pemerintah akan mengganti investasi yang sudah keluar melalui skema penggantian biaya operasi atau cost recovery​. Untuk itu Amien mendorong perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu tetap berinvestasi di Blok Rokan agar produksi tidak turun, apalagi mereka penyumbang terbesar produksi siap jual (lifting) minyak nasional.  

Sementara bila tidak berinvestasi dan produksi turun, bagian yang diperoleh Chevron juga mengecil. "Kalau Chevron tetap investasi​ maka produksi Rokan tetap tinggi dan mereka akan mendapat bagian kontraktor juga," ujar dia.

(Baca: Lifting Minyak dan Gas Bumi Semester I 2017 Turun)

Berdasarkan data SKK migas, sepanjang semester I tahun ini, realisasi produksi minyak Chevron di Blok Rokan mencapai 226.500  barel per hari (bph), berkontribusi sebanyak 28 persen dari total produksi minyak nasional. Namun capaian itu lebih rendah dari target rencana anggaran dan kerja yang dipatok 227.600 bph.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait