Menteri BUMN Lepas Tangan Soal Kenaikan Gas Elpiji

Menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi merupakan kewenangan Pertamina
Image title
Oleh
14 Agustus 2014, 14:02
dahlan iskan
KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Menteri Badan Usaha Milik  Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku tidak akan ikut campur terkait langkah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga elpiji non-subsidi. Karena hal ini adalah kewenangan Pertamina sendiri.

Meskipun pemerintah harus menyikapi dampak dari kenaikan harga ini, tetapi keputusan menaikkan harga gas elpiji non-subsidi menjadi urusan perusahaan dalam hal ini  Pertamina. Menurut Dahlan, yang harus mengambil sikap itu pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

"Bukan tidak apa-apa (menaikkan harga elpiji), tapi tidak ikut-ikut," ujarnya di Jakarta, Kamis (14/8).

Sejak awal, kata Dahlan, dia tidak mau ikut campur soal kebijakan Pertamina, termasuk soal konflik yang terjadi antara Pertamina dengan PT Perusaan Milik Negara (Persero) soal harga solar. Dia beralasan keengananya untuk ikut campur, karena Menteri ESDM Jero Wacik sudah turun tangan langsung menangani hal tersebut.

Berbeda dengan Dahlan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung malah meminta Pertamina tidak semena-mena menerapkan kebijakan tersebut. Bahkan pembahasan mengenai keputusan Pertamina menaikkan harga elpiji non-subsidi ini akan dibawa ke sidang kabinet terbatas.

(Baca: Pertamina Diminta Tidak Terburu-buru Naikkan Harga Elpiji)

Pertamina telah memutuskan menaikkan harga gas elpiji non-subsidi sebesar Rp 1.000-Rp 1.500 per kilogram mulai bulan ini. Hal ini dilakukan, karena Pertamina mengaku mengalami kerugian hingga Rp 5 triliun per tahun, akibat harga elpiji yang lebih rendah dari nilai keekonomiannya..

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, berdasarkan peta jalan (roadmap) harga elpiji Pertamina pada 2016 besaran harga elpiji non-subsidi akan disesuaikan dengan harga keekonomiannya. Makanya kenaikan harga perlu dilakukan secara bertahap mulai tahun ini.

Menurut dia, kenaikan harga tersebut juga dilakukan dengan mempertimbangkan harga yang kini digunakan beberapa perusahaan lain yang ikut menjual elpiji 12 kg. ?Ada tiga perusahaan lain, bisa dicek dari pemasok lain. Itu harga per kilogramnya rata-rata di atas Rp 15.000 per kg. Sementara Pertamina sekarang masih Rp 6.500 per kg,?  kata Ali.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait