Pengguna Internet Naik, Kontribusi Pajak Informatika Kalahkan Tambang

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

31/10/2017, 19.39 WIB

Populasi pengguna internet akan terus tumbuh di tahun-tahun mendatang.

digital
Arief Kamaludin | Katadata

Peningkatan pengguna internet memicu kenaikan kontribusi penerimaan pajak industri informasi dan komunikasi. Indonesia memiliki jumlah populasi yang potensial untuk meningkatkan produktivitas industri.

"Sebenarnya peningkatan telekomunikasi, jadi memang pengguna meningkat," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan kepada Katadata di Jakarta, Selasa (31/10).

Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, pada 2012 pengguna internet hanya 63 juta orang. Perkembangannya, hingga tahun lalu, terjadi peningkatan pengguna menjadi 132 juta orang.

(Baca juga:  Menperin: Sumbangan Pajak Industri Manufaktur Tumbuh 16,63%)

Semuel mencontohkan, jika ada 150 juta pemilik ponsel, jumlah produksi gawai bisa jadi lebih besar karena ada orang yang menggunakan lebih dari satu unit. Belum lagi peluang bisnis aplikasi hingga e-commerce yang terbuka melalui akses internet tersebut.

Kominfo pun menargetkan jumlah pengguna internet 180 juta orang pada 2020. “Harapannya semua jaringan internet bisa selesai 2019,” kata Samuel.

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan pajak sektor informasi dan komunikasi sebesar Rp 32,19 triliun tercatat berada di atas pertambangan yakni Rp 31,66 triliun.

Kendati, porsi penerimaan pajak paling tinggi berasal dari sektor industri hingga triwulan ketiga 2017 mencapai Rp 224,95 triliun . Sementara sumbangan sektor perdagangan Rp 134,74 triliun, keuangan Rp 104,92 triliun, konstruksi Rp 35,40 triliun, dan sektor lainnya Rp 156,19 triliun.

(Baca juga:  Dirjen Pajak Tanggapi Ide Pembebasan PPN untuk Genjot Minat Belanja)

Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengungkapkan sektor informasi dan komunikasi pertumbuhannya tinggi karena banyak orang meninggalkan konsumsi benda. Obsesi orang berubah menjadi aktualisasi diri, termasuk dengan membagikan selfie melalui media sosial.

Ia menekankan, meski pertumbuhan sektornya kecil, dampaknya transformatif. Perubahan perilaku gaya hidup mempengaruhi sektor lainnya. “Pergeseran konsumsi benda ke pengalaman,” kata Thomas, kemarin (30/10).

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan