Kepala BKPM Thomas Lembong menyarankan pelaku usaha untuk melakukan digitalisasi atas bisnisnya agar tidak ketinggalan dengan perkembangan yang ada.
Digital e-commerce
Arief Kamaludin|KATADATA

Bisnis jual-beli online alias e-commerce terus mengalami peningkatan. Asosiasi E-Commerce Indonesia memprediksi, nilai transaksi bisa meningkat 30-50% secara tahunan menjadi berkisar US$ 7,3 miliar hingga US$ 8,4 miliar atau sekitar Rp 98,6 triliun sampai Rp 113,7 triliun sepanjang 2017.

Seiring pesatnya pertumbuhan bisnis e-commerce, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyebut ekonomi digital sebagai salah satu sektor yang paling menjanjikan selain sektor pariwisata. Ia memperkirakan bisnis tersebut bakal tumbuh 30% di 2017. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“(Ekonomi digital) itu peluang sekaligus tantangan. Peluang bagi startup (perusahaan perintis) dalam membuat platform-platform baru dan aplikasi baru, tapi juga tantangan bagi dunia usaha,” kata Lembong dalam acara 'UOB Indonesia Economic Outlook 2018' di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (14/11). (Baca juga: 6 Festival Belanja Online Akhir Tahun bagi Para Pemburu Diskon)

Maka itu, ia pun menyarankan pelaku usaha melakukan digitalisasi atas bisnisnya agar tidak ketinggalan dengan perkembangan yang ada. Digitalisasi yang dimaksud baik dari segi keuangan, pemasaran, maupun proses pengolahan atau manufaktur produk. (Baca juga: Target Pengangguran Meleset, Pemerintah Antisipasi Imbas E-Commerce)

Sejalan dengan Lembong, Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja mengatakan ekonomi digital bakal menjadi salah satu kontributor pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. Hal itu seiring dengan bertambahnya pengguna internet di Tanah Air.

Menurut catatannya, dari total 262 juta penduduk tahun lalu, sebanyak 51% atau 132,7 juta diantaranya adalah pengguna internet. Lalu, sebanyak 106 juta merupakan pengguna media sosial.

"Indonesia telah menjadi negara yang memiliki fondasi kuat untuk pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan," ucapnya. "Tumbuhnya era ekonomi digital ditambah dengan pertumbuhan kelas menengah, akan memberikan dorongan yang lebih kuat lagi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia."

Potensi ekonomi digital di Indonesia telah menarik sejumlah pemodal asing. Beberapa di antaranya tercatat sudah menambahkan modal di beberapa startup lokal di bidang e-commerce. Bank Indonesia (BI) melansir tingginya aliran masuk investasi asing langsung ke sektor e-commerce sebagai salah satu pendongkrak surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III lalu.

Pemerintah memprediksi, kontribusi dari e-commerce bakal mencapai 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020.

Artikel Terkait
Rudiantara mengungkapkan sektor pendidikan nasional butuh investasi dari dalam negeri karena peraturan melarang sektor ini menerima modal asing.
"Kami membuat industri startup menghabiskan US$ 50 juta dan hasilnya nihil," kata CEO baru Indosat, Joy Wahyudi.
Ekonomi kreatif bakal menyumbang Rp 1.000 triliun untuk Produk Domestik Bruto 2017.