Protes ke Pengembang, Konsumen Properti Reklamasi Ditahan Polisi

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

2/2/2018, 16.40 WIB

Protes konsumen kepada pengembang Pulau D reklamasi Jakarta berujung penahanan di Polda Metro Jaya.

Reklamasi
Arief Kamaludin|KATADATA
Lahan hasil reklamasi Pantura Pulau C-D, di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Rabu (4/5).

Polda Metro Jaya menahan seorang konsumen properti Golf Island Pulau D dalam proyek reklamasi Jakarta, Lucia. Lucia yang menjadi tersangka dugaan melakukan penghinaan kepada pengembang Golf Island, PT Kapuk Naga Indah (KNI), bakal menjalani tahanan Polda selama 20 hari mulai Jumat (2/2).

"Sejak tanggal 2 (Februari) ini (jalani penahanan). Sesuai dengan KUHAP, kami sudah pelajari, jadi 20 hari (penahanan)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes (Pol) Argo Yuwono ketika dihubungi Katadata.

Argo mengatakan, penyidik menahan Lucia setelah melakukan pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, pada Kamis (2/2) yang berlangsung selama lebih dari 12 jam. Penahanan Lucia, kata Argo, agar yang bersangkutan tidak melarikan diri dan tak menghilangkan barang bukti.

Selain itu, Lucia juga ditahan dengan alasan agar tak mengulangi perbuatannya. "Ya penyidik kan yang lebih tahu potensinya di situ," kata Argo.

(Baca juga: Jadi Tersangka, Konsumen Reklamasi Anggap Penyidikan Polisi Janggal)

Penetapan Lucia sebagai tersangka menindaklanjuti laporan yang dibuat perwakilan PT KNI, Lenny Marlina, dengan nomor LP/6076/XII/2017/ PMJ/Ditreskrimsus pada 11 Desember 2017. Sejak laporan itu, polisi menetap Lucia sebagai tersangka sejak 26 Januari 2018 dengan dugaan melakukan pelanggaran pencemaran nama baik, fitnah, serta pengancaman dengan penistaan. Dia dijerat Pasal 310 dan 311 KUHP juncto Pasal 335 ayat (1) ke-2 KUHP.

Argo mengatakan polisi memiliki bukti video dalam menetapkan Lucia sebagai tersangka. Video berjudul "Ricuh Konsumen Golf Island PIK 2 menuntut developer di kantor marketing" dibuat pada 9 Desember 2017.

Video tersebut menampilkan pertemuan konsumen yang memprotes PT Kapuk Naga Indah, anak usaha Agung Sedayu, atas pembangunan proyek Golf Island yang belum ada kejelasan dalam proses hukum reklamasi. Video diunggah ke Youtube pada 17 Desember 2017. "Dia dinilai oleh penyidik terbukti melakukan tindak pidana, kan gitu. Nah maka dilakukan penahanan," kata Argo.

Argo mengatakan, penetapan tersangka lantaran Lucia diduga memaki penjaga kantor Marketing Gallery PIK2. Lucia menyampaikan hal tersebut ketika melakukan komplain bersama konsumen lainnya terhadap PT KNI. "Dia marah-marah di situ," kata Argo.

Kuasa hukum Lucia, Rendy Anggara Putra menilai penetapan tersangka janggal karena penyidik Polda Metro Jaya sangat cepat meningkatkan tahap penyelidikan ke penyidikan. 

(Baca: Pengembang Seret Konsumen Properti Reklamasi ke Kepolisian)

Rendy menjelaskan, polisi menerbitkan Surat Perintah Penyidikan Nomor Sp.Sidik/856/XII/2017/Dit Reskrimsus tanggal 12 Desember 2017, sehari setelah menerima laporan dari perwakilan pengembang. "Artinya dalam satu hari langsung sidik. Ini kapan lidiknya? Itu kami pertanyakan," kata Rendy.

Rendy pun menilai unsur niat jahat dalam kasus dugaan pencemaran nama baik yang menjerat Lucia tidak ada. Menurut Rendy, Lucia hanya melakukan komplain atas properti Golf Island yang dibelinya dari pengembang anak usaha Agung Sedayu. "Menurut kami belum cukup bukti permulaan untuk menetapkan Bu Lucia sebagai tersangka," kata Rendy.

Lucia mengatakan, ia tak pernah merasa mencemarkan nama baik dan fitnah terhadap PT KNI. Menurut Lucia, sebagai konsumen dia memiliki hak untuk menanyakan uang yang telah dibayarkan untuk membeli properti Golf Island.

"Saya konsumen, saya merasa uang yang sudah saya serahkan tidak ketahuan nasibnya sekarang. Saya berhak bertanya, paling tidak saya bertanya bagaimana, itu pun bertanya sudah tidak boleh," kata dia.

Konsumen properti reklamasi sempat menggugat permasalahan ketidakjelasan pembangunan Golf Island ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) DKI Jakarta. Dalam gugatannya, mereka meminta BPSK memerintahkan PT KNI mengembalikan uang cicilan dan booking fee yang telah disetorkan atas pembelian 11 unit properti Golf Island senilai Rp 36,7 miliar.
 
Golf Island merupakan proyek properti elite yang menghubungkan antara Pulau C,D dan Pantai Indah Kapuk. Rumah yang dibangun ditawarkan dengan harga sekitar Rp 2-9 miliar per unit. Sementara rumah kantor yang menghadap pantai mencapai Rp 11 miliar per unit.
 
Dalam gugatan yang dilayangkan ke BPSK, konsumen juga meminta agar PT KNI tidak meneruskan penerimaan cicilan pembayaran dari konsumen. Namun, BPSK menghentikan gugatan tersebut dengan alasan tidak adanya kesepakatan antara konsumen dan pengembang dalam menyelesaikan perkara tersebut.
 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan