Inalum Akan Kuasai Freeport dengan Pinjaman Bank Asing

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Safrezi Fitra

18/7/2018, 10.42 WIB

Perbankan asing memberikan skema pinjaman yang lebih kompetitif bagi Inalum

Freeport
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Area pengolahan mineral PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua.

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyebut besar kemungkinan 11 bank yang siap membiayai divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia merupakan perbankan asing. Ini lantaran perbankan tersebut menawarkan skema pembiayaan yang lebih baik bagi Inalum.

Inalum sempat mengungkapkan hingga pekan lalu sudah ada 11 bank yang siap membantu pendanaan dalam mengakuisisi saham Freeport. Head of Corporate Communications & Government Relations Inalum Rendi Witular mengaku perbankan tersebut bukanlah bank Himpunan Bank Negara (Himbara).

"Kemungkinan asing, karena mereka lebih kompetitif," kata Rendi kepada Katadata.co.id. Sayangnya dia belum mau menyebutkan berapa besar pinjaman yang akan dikucurkan oleh bank-bank asing tersebut. (Baca: Tiga Bank BUMN Dipastikan Danai Inalum Ambil Alih Saham Freeport)

Rendi juga mengatakan setelah perjanjian (Head of Agreement/HoA) ditandatangani Inalum, Freeport McMoran Inc dan Rio Tinto maka langkah yang dilakukan adalah perjanjian pengikatan jual beli (sales and purchase agreement) disusul dengan keluarnya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Meski demikian, Rendi tidak menyebut kapan seluruh proses ini akan selesai. Tetapi dirinya mengatakan bahwa arahan para Menteri adalah menyelesaikan divestasi secepatnya. Dia juga mengatakan proses paling besar dan memakan waktu lama adalah pada tahap HoA yang kini sudah dilalui.

"Jadi masalah harga dan struktur transaksi sudah selesai. Tinggal bahasa hukum saja," kata dia. (Baca: Harga Saham Freeport McMoran Turun Usai Teken Kesepakatan Divestasi)

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin berharap pendanaan dari konsorsium tersebut dapat membantu perusahaannya menguasai Freeport Indonesia. Nilai divestasi 40% saham Freeport sangat besar, hingga mencapai US$ 3,85 miliar.

Perinciannya sebanyak US$ 3,5 miliar dialokasikan untuk pembayaran hak partisipasi Rio Tinto dan US$ 350 juta untuk Indocopper. Di sisi lain, posisi uang tunai yang dimiliki Inalum mencapai US$ 1,5 miliar. "Kami berharap dalam dua bulan bisa selesai semua,"kata Budi.

(Baca: Bos Freeport: Lebih dari 70% Keuntungan Freeport Buat Indonesia)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha