Elektabilitas PSI Terdongkrak Narasi Menolak Perda Agama

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Hari Widowati

14/12/2018, 19.43 WIB

Narasi tersebut menjadi kampanye gratis bagi PSI untuk menggaet simpati dari masyarakat yang memiliki pandangan serupa soal Perda agama.

Partai politik
ANTARA/OKY LUKMANSYAH
Sejumlah partai politik menandatangani kesepakatan Pemilu damai.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai mendapat efek elektoral dari narasi menolak Perda berbasis agama. Pasalnya, elektabilitas PSI pada Desember 2018 tercatat menguat 1% dibandingkan dua bulan sebelumnya.

Berdasarkan survei Y-Publica yang dirilis pada Jumat (14/12), suara yang diperoleh PSI sebesar 2,6%. Pada Oktober 2018, elektabilitas PSI hanya sebesar 1,6%.

Jumlah peningkatan elektabilitas PSI tersebut berkisar 1-2 juta tambahan pemilih. "PSI naik signifikan. PSI naik ke papan tengah," kata Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono di Jakarta.

Rudi mengatakan, pidato Ketua Umum PSI Grace Natalie yang menolak Perda agama dapat menaikkan elektoral karena memiliki efek viral akibat diperbincangkan publik. Narasi tersebut menjadi kampanye gratis bagi PSI untuk  menggaet simpati dari masyarakat yang memiliki pandangan serupa soal Perda agama.

Berdasarkan survei Y-Publica, terdapat 51,7% masyarakat yang tidak menyetujui Perda agama. Sebanyak 47,2% masyarakat pun menilai penerapan Perda agama belum berdampak positif pada perbaikan tata nilai dan perilaku mereka.

Sebanyak 10,5% responden bahkan menilai Perda agama sama sekali tidak berdampak positif. "Ini nilai ideologis dari PSI yang tidak bisa dikompromi, lalu ditangkap oleh masyarakat yang punya pandangan yang sama," kata Rudi.

Selain PSI, Partai Berkarya juga mendapat peningkatan elektabilitas. Survei Y-Publica mencatatkan elektabilitas Partai Berkarya pada Desember 2018 sebesar 0,8%.

Elektabilitas Partai Berkarya naik 0,2% dibandingkan Oktober 2018 yang hanya sebesar 0,6%. Rudi mengatakan, peningkatan elektabilitas Partai Berkarya dipengaruhi oleh gagasan 'Rindu Orde Baru' yang kerap digaungkan mereka.

Menurut Rudi, gagasan tersebut selama ini diperbincangkan oleh publik. Hal ini juga menjadi kampanye gratis bagi partai yang dipimpin oleh Hutomo Mandala Putra ini. "Itu membuat orang-orang yang punya visi sama kembali ke Orde Baru bersimpati ke Berkarya," kata Rudi.

(Baca: Survei Y-Publica: Mayoritas Masyarakat Tak Setuju Perda Agama)

Elektabilitas PDIP dan Gerindra Naik Signifikan 

Sementara itu, elektabilitas PDIP dan Gerindra saat ini naik cukup signifikan. Elektabilitas PDIP saat ini mencapai 29,1%, naik 1% dibandingkan pada Oktober 2018 yang sebesar 28,1%.

Gerindra memperoleh suara sebesar 14,8%. Angka ini naik 1,6% dibandingkan dua bulan sebelumnya yang hanya sebesar 13,2%.

Menurut Rudi, peningkatan elektabilitas kedua partai tersebut karena menikmati efek ekor jas dari kandidat calon presiden di Pilpres 2019. Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo merupakan kader dari PDIP. Sementara, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto merupakan Ketua Umum Gerindra. "Karena punya figur capres, mereka masih mendapat efek elektoral," kata Rudi.

Elektabilitas beberapa partai lainnya, seperti Golkar, Nasdem, Demokrat, PPP, PKS, PAN, Perindo, PKPI, dan Hanura, PBB, dan Garuda saat ini cenderung stagnan. Elektabilitas Golkar saat ini sebesar 9,1%, Nasdem 3,7%, Demokrat 7%, dan PPP 3,2%.

Sementara itu, elektabilitas PKS sebesar 3%, PAN 2,7%, Perindo 2,5%, PKPI 0,8%, Hanura 1,6%, PBB 1,1%, dan Garuda 0,5%. Rudi menilai elektabilitas partai-partai tersebut stagnan karena tak memiliki narasi untuk disampaikan ke publik.

Ada pun, stagnasi elektabilitas PPP dan PKS ditambah faktor konflik internal yang belum diselesaikan. "Situasi internal itu yang membuat energi partai tidak begitu masif," kata Rudi.

 

Y-Publica mengadakan survei pada 20 November-4 Desember 2018 dengan melibatkan 1.200 responden di Indonesia. Survei dilakukan melalui pemilihan responden secara acak atau multistage random sampling. Tingkat kesalahan alias margin of error dalam survei ini sebesar +/- 2,8% dengan tingkat kepercayaan 95%.

(Baca: 14 Isu Tak Beri Elektoral Signifikan kepada Kandidat Pilpres)

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan