Jaga Inflasi, BI Diprediksi Tak Akan Buru-buru Pangkas Bunga Acuan

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Desy Setyowati

12/6/2019, 15.24 WIB

"BI tidak akan tergesa-gesa menurunkan suku bunga acuan mengingat situasi defisit transaksi berjalan dan faktor eksternal," ujar Analis Mirae.

Peluang suku bunga acuan turun
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Ilustrasi jajaran pimpinan BI. Analis Mirae memperkirakan, suku bunga acuan baru berpeluang turun pada Semester II-2019.

Tim analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan Bank Indonesia (BI) tidak akan tergesa-gesa memangkas suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate. Meskipun, inflasi terkendali di level yang rendah. Kemungkinannya, pemangkasan bunga acuan baru terjadi pada Semester II 2019.

Analis Mirae Asset Sekuritas Mangesti Diah Sulistiani menjelaskan, inflasi Mei yang sebesar 0,68% masih sesuai target BI. “Tetapi, BI tidak akan tergesa-gesa menurunkan suku bunga acuan mengingat situasi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan faktor eksternal," kata dia dalam risetnya yang diterima Katadata.co.id, Rabu (12/6).

(Baca: Potensi Bunga The Fed Turun, Ekonom Ingatkan BI Jangan Telat Merespons)

Tim analis Mirae merevisi turun prediksi inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK). Sebelumnya, mereka memperkirakan IHK berada di level rata-rata 3,8%. Perkiraan itu direvisi menjadi rata-rata 3,2% pada akhir tahun ini. “Revisi ini karena inflasi yang terus-menerus rendah dan harga minyak yang stabil," kata Mangesti.

Sebelumnya, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro juga memperkirakan, BI baru akan menurunkan suku bunga acuan pada akhir Semester II. Menurut Andry, pertumbuhan ekonomi 5,07% pada kuartal I 2019 tergolong stabil dan akan berlanjut hingga akhir tahun ini.

(Baca: BPS: Harga Bumbu Makanan dan Tarif Tranportasi Naik, Inflasi Mei 0,68%)

Pertumbuhan ekonomi yang terpantau stabil ini bisa menjadi pertimbangan BI untuk menurunkan suku bunga acuan pada akhir tahun.  “Dengan pertumbuhan yang stabil ini, BI akan memangkas suku bunga 25 basis poin," kata Andry, pada pertengahan Mei lalu.

Adapun inflasi bulanan Mei tercatat 0,68% atau 1,48% secara tahun kalender  dan 3,32% secara tahunan. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebutkan, penyebab inflasi selama Ramadan ini adalah bahan makanan dan angkutan.

(Baca: Ekonom Bank Mandiri Proyeksi BI Turunkan Bunga Acuan di Akhir 2019)

Harga bahan makanan naik 2,02%, sehingga berkontribusi 0,43% terhadap keseluruhan inflasi Mei 2019. Harga bahan makanan yang naik adalah cabai merah, daging ayam ras, bawang putih, ikan segar, serta beberapa komoditas sayuran seperti kelapa dan pepaya.

(Baca: Rupiah Semakin Melemah, BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga)

Kelompok transportasi juga mengalami kenaikan tarif 0,74%, dengan andil 0,1% terhadap keseluruha inflasi. Tarif ini naik karena permintaan layanan meningkat selama mudik lebaran 2019. Angkutan antar kota menyumbang 0,06% terhadap inflasi. Sedangkan kontribusi angkutan udara dan kereta api masing-masing 0,02% terhadap inflasi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN