Kebijakan Kuwait dan Saudi Bawa Harga Minyak Dekati US$ 55 Per Barel

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ameidyo Daud

13/8/2019, 09.52 WIB

Kuwait berkomitmen memangkas produksi, sedangkan Saudi siap dukung harga lantaran rencana Saudi Aramco IPO.

Harga Minyak, OPEC, Saudi Aramco.
Katadata
Harga minyak hari Selasa (13/8) ini naik tipis, buntut kebijakan Kuwait dan Arab Saudi.

Harga minyak mentah dunia bergerak positif pada penutupan perdagangan Senin (12/8) atau Selasa (13/8) pagi waktu Indonesia karena produsen utama seperti Kuwait memangkas produksinya untuk menjaga harga minyak tetap kompetitif.

Sementara itu perusahaan minyak milik Arab Saudi, Saudi Aramco, dikabarkan akan segera melakukan penawaran saham perdana di pasar atau initial public offering (IPO) terbesar di dunia. Sehingga demi kepentingan tersebut, Arab Saudi akan berupaya untuk menjaga agar harga minyak global tetap menarik.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup pada angka US$ 58,75 per barel atau naik US$ 4 sen. Sedangkan, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 54,93 per barel atau naik US$ 43 sen.

Kuwait menyatakan komitmen penuhnya terhadap perjanjian Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya atau lebih dikenal OPEC +, untuk memangkas produksi hingga 1,2 juta barel per hari (bph) sejak 1 Januari lalu.

(Baca: Terseret Perang Dagang, Harga Minyak Turun Jadi US$ 54 per Barel)

Menteri Perminyakan Kuwait Khaled al-Fadhel mengatakan bahwa negara teluk tersebut telah memangkas produksinya sendiri lebih dari yang dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut.

"Saudi Aramco membutuhkan harga minyak yang lebih tinggi untuk IPO-nya. Ini menegaskan mereka akan melakukan apa pun untuk menaikkan harga minyak," kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago dilansir dari Reuters, Selasa (13/8).

Eksekutif senior Saudi Aramco Khalid al-Dabbagh mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi akan memutuskan IPO akan dilakukan pada kondisi pasar yang optimal. Pejabat tersebut juga mengatakan bahwa Saudi Aramco telah menandatangani surat perjanjian dengan Reliance India untuk membeli saham dalam industri penyulingan dan petrokimia.

(Baca: Goldman Sachs: Kekhawatiran Perang Dagang Berujung Resesi Meningkat)

Analis mengatakan pengurangan pasokan yang lebih banyak dibutuhkan untuk menopang harga minyak. Ini karena pengamat dan lembaga pemerintah mengeluarkan prediksi yang suram terkait ekonomi global dan pertumbuhan permintaan minyak.

Prospek ekonomi memburuk di seluruh dunia karena perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berkepanjangan.

"Ini akan membuat pasar jauh lebih lama untuk kembali ke keseimbangan dan memaksa produsen OPEC dan non-OPEC untuk melanjutkan pengurangan produksi mereka," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.

International Energy Agency (IEA) mengatakan pada Jumat (9/8) lalu bahwa meningkatnya tanda-tanda perlambatan ekonomi telah menyebabkan permintaan minyak global tumbuh pada laju paling lambat sejak krisis keuangan 2008.

(Baca: Perang Dagang Sebabkan Harga Minyak Merosot Hampir 5%)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN