Cukai Rokok Diprediksi Naik, Gudang Garam Buka Peluang Kerek Harga

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Desy Setyowati

27/8/2019, 15.45 WIB

Bahana Sekuritas memperkirakan, cukai rokok naik sekitar 10-11% pada tahun depan.

Gudang Garam akan menaikkan harga jika cukai rokok naik
Arief Kamaludin (Katadata)
Ilustrasi cukai tembakau. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membuka peluang untuk menaikkan harga jual produk, jika pemerintah meningkatkan tarif cukai rokok.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membuka peluang untuk menaikkan harga jual produk, jika pemerintah meningkatkan tarif cukai rokok. Namun, perusahaan tetap akan mempertimbangkan daya beli masyarakat berpendapatan rendah.

Sepanjang kemampuan beli konsumen baik, peluang menaikkan harga rokok sangat terbuka. "Pass on (kepada harga jual) ini, tentunya dilakukan secara bertahap. Sayangnya, lebih banyak bergantung kepada perkembangan yang terjadi terkait daya beli masyarakat, khususnya level bawah," kata Direktur Gudang Garam Heru Budiman di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (27/8).

Karena itu, perusahaan masih akan memantau perkembangan daya beli masyarakat, khususnya kelas bawah. Gudang Garam pun tidak mau berspekulasi terkait cukai.

Kabarnya, tarif cukai rokok naik 20% tahun depan. "Kalau saya sabar menanti sampai ketentuan cukai jelas keluar. Kalau ada kenaikan, itu tentu adalah peningkatan beban buat kami," kata Heru.

(Baca: Harga Vape Mahal, Gudang Garam Belum Tertarik Bisnis Rokok Elektrik)

Dia menjelaskan, kenaikan cukai tersebut membuat beban biaya perusahaan ikut meningkat. Karena itu, perseroan mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual rokok supaya keuntungan tidak tergerus.

Sebelumnya, Analis Bahana Sekuritas Giovanni Dustin mengatakan, saat ini pasar tengah berspekulasi bahwa pemerintah akan menaikkan tarif cukai rokok tahun depan. Bahana memperkirakan, cukai rokok naik sekitar 10-11% pada tahun depan.

(Baca: Tunggu Kepastian Cukai, Harga Rokok Diprediksi Tak Akan Naik)

Prediksi itu mempertimbangkan pemerintah yang ingin menutup defisit anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan, dari penerimaan cukai rokok. Di satu sisi, Bahana menilai kenaikannya tidak akan terlampau tinggi.

Sebab, menurutnya pemerintah juga tidak ingin kebijakan itu menambah beban industri. Apalagi, hal itu dinilai bisa membuat ketidakstabilan pada industri rokok.

Giovanni menambahkan, pemerintah kelihatannya cenderung untuk mengutamakan stabilitas di dalam negeri. Sebab, ada tekanan dari pasar global yang dapat berdampak terhadap perekonomian domestik.

(Baca: Selama 6 Bulan 2019, Realisasi Penerimaan Bea Cukai 41,9% dari Target)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan