Inflasi Agustus Dorong Berlanjutnya Penguatan Rupiah

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Yuliawati

2/9/2019, 13.01 WIB

Inflasi Agustus yang sejak awal diperkirakan cukup rendah mendorong penguatan rupiah.

rupiah, inflasi, perang dagang
Arief Kamaludin (Katadata)
Ilustrasi. Perkembangan perundingan perang dagang memberi sentimen penguatan rupiah.

Nilai tukar rupiah pada hari ini, Senin (2/9) terus mengalami penguatan. Tercatat, rupiah kini berada di level Rp 14.191 per dolar AS atau menguat 0,04% dibanding penutupan kemarin sore.

Direktur Riset Center Of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdullah Redjalam mengatakan rilis inflasi domestik pada bulan Agustus yang sejak awal diperkirakan cukup rendah mendorong penguatan rupiah. "Sampai akhir tahun inflasi akan berada dalam range target pemerintah dan Bank Indonesia," kata dia saat dihubungi Katadata.co.id, Senin (2/9).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks harga konsumen (IHK) mengalami kenaikan atau inflasi bulanan pada Agustus 2019 sebesar 0,12% atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yakni 0,31%. Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga.

(Baca: Tensi Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Rupiah Menguat 0,08%)

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan secara tahunan, inflasi pada Agustus 2019 tercatat sebesar 3,49%, sedangkan secara tahun kalender sebesar 2,48%.

Pieter mengapresiasi konsistensi BI dan pemerintah dalam menjaga pasar valuta asing khususnya di pasar DNDF. Hal ini menurut dia yang menambah tingkat kepercayaan pasar terhadap Indonesia.

Selain itu, di sisi eksternal Pieter mengungkapkan bahwa perkembangan perundingan perang dagang memberi sentimen penguatan rupiah. "Saat ini pasar masih menunggu hasil perundingan terbaru antara AS dan Tiongkok dengan nuansa yang lebih positif," ujarnya.

Pada pekan lalu rupiah menguat didorong oleh sentimen positif pasar. Pasar mengapresiasi niat Tiongkok yang tidak membalas AS yang menaikkan tensi perang dagang.

Dengan merujuk tiga faktor di atas, Pieter memproyeksikan rupiah masih akan bergerak konsolidatif pada hari ini. "Naik turunnya rupiah saya perkirakan akan mild," katanya.

(Baca: Tensi Perang Dagang Turun, Rupiah Menguat ke 14.197 per dolar AS)

Di sisi lain, Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra pun mengungkapkan inflasi yang tetap stabil tak terlalu mempengaruhi rupiah. Namun ia berpendapat kini pasar menunggu kelanjutan negosiasi dagang AS dengan Tiongkok yang rencananya akan dimulai lagi di awal September.

"Niat baik Tiongkok untuk melanjutkan negosiasi tanpa aksi balas dendam telah memberikan sentimen positif untuk aset berisiko termasuk rupiah," kata dia saat dihubungi di waktu yang berbeda.

Sembari menantikan kelanjutan negosiasi dagang, rupiah dinilai Ariston mungkin bergerak konsolidatif terhadap dolar AS pada hari ini. Sehingga isu lain seperti demo Hong Kong yang memanas, Brexit gejolak di Timur Tengah dinilai Ariston bisa memberatkan Rupiah.

Ia memperkirakan rupiah kemungkinan bergerak di kisaran Rp 14.170 - Rp 14.250 per dolar AS hingga penutupan sore ini.

(Baca: Jelang Kenaikan Tarif, AS-Tiongkok Beri Sinyal Bakal Berunding)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan