Rupiah Menguat Tipis Ditopang Sentimen Positif Negosiasi AS-Tiongkok

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Desy Setyowati

9/9/2019, 09.32 WIB

Meski begitu, pasar masih akan mewaspadai efek samping dari perang dagang.

Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat 0,09% menjadi Rp 14.087 per dolar AS pada perdagangan hari ini (9/9)
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat 0,09% menjadi Rp 14.087 per dolar AS pada perdagangan hari ini (9/9).

Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat 0,09% menjadi Rp 14.087 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini (9/9), berdasarkan data Bloomberg. Penguatan ini ditopang oleh sentimen pasar terkait perang dagang antara AS dan Tiongkok yang semakin positif.

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, rupiah berpeluang untuk terus menguat hari ini. "Kemungkinan ini karena pasar masih menyambut positif negosiasi dagang lanjutan antar AS dan Tiongkok pada Oktober," katanya kepada Katadata.co.id, Senin (9/9).

Selain itu, Ariston menilai potensi berlanjutnya penguatan rupiah hari ini didukung oleh meredanya kisruh terkait Brexit dan Hong Kong. Sentimen positif ini berpengaruh juga terhadap mata uang Asia lainnya.

Saat berita ini ditulis, beberapa mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,07%, dolar Taiwan 0,04%, won Korea Selatan 0,2%, rupee India 0,17% dan ringgit Malaysia 0,2%.

(Baca: Cadangan Devisa Naik, Rupiah Menguat ke Posisi 14.101 per Dolar AS)

Meski begitu, Ariston mengatakan bahwa pasar masih akan mewaspadai efek samping dari perang dagang. "Seperti ekspor Tiongkok pada Agustus yang menurun dan data Tenaga Kerja AS yang masih solid," kata dia.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ariston memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 14.060 - Rp 14.150 per dolar AS pada hari ini.

Sebagaimana diketahui, AS resmi menerapkan tarif tambahan sebesar 15% terhadap produk impor Tiongkok senilai US$ 110 miliar. Barang-barang mencakup 3.243 jenis barang, termasuk di dalamnya produk furnitur, jam tangan pintar, dan juga pakaian.

Sedangkan kenaikan tarif terhadap sisa impor Tiongkok ke AS yang mencakup 555 jenis barang, termasuk produk telepon pintar atau smartphone, akan ditunda hingga 15 Desember 2019, untuk mengantisipasi kenaikan harga pada belanja Natal yang sudah semakin dekat.

(Baca: Tensi Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Rupiah Dibuka Menguat)

Dengan berlakunya tarif baru tersebut, rata-rata tarif impor Tiongkok ke AS naik 3% menjadi di atas 21%. Besaran tarif ini setara dengan biaya yang berlaku selama era proteksionisme pra-Perang Dunia II. Sebaliknya rata-rata tarif Tiongkok terhadap impor asal AS naik menjadi 22 %.

Pemerintah Tiongkok lantas mengajukan keluhan terhadap kebijakan tarif impor AS kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Senin (2/9). Namun, pembicaraan terkait negosiasi AS dan Tiongkok tetap berlanjut.

(Baca: Kurs Rupiah Tertekan di Tengah Penguatan Tajam Dolar AS)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN