Harga Cabai Merah Turun, Terjadi Deflasi 0,19% pada September 2019

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Ratna Iskana

20/9/2019, 14.43 WIB

Pasokan cabai merah mulai normal kembali pada bulan ini. Sehingga bisa terjadi deflasi sebesar 0,19% di September 2019.

Perry Warjiyo, Bank Indonesia
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bulan ini akan terjadi deflasi karena harga cabai turun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan penurunan harga cabai merah bakal menyumbang deflasi pada September 2019. Berdasarkan survei pemantauan harga di minggu ketiga September 2019, BI memproyeksi bulan ini akan terjadi deflasi sebesar 0,19% secara bulanan dan 3,48% secara tahunan.

Perry menyebut pasokan cabai pada bulan ini sudah kembali normal sehingga bisa terjadi deflasi."Salah satu penyumbangnya cabai merah yang deflasi 0,21%, kata Perry di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (20/9).

Selain cabai merah, beberapa komoditas juga tercatat menyumbang deflasi. Komoditas tersebut yakni bawang merah 0,07% dan daging ayam 0,05%.

Perry menjelaskan, kenaikkan inflasi dua bulan terakhir memang disumbang kenaikan harga cabai. Namun, kenaikan tersebut hanyalah faktor musiman.

Makanya Perry yakin inflasi di akhir tahun akan berada di bawah titik tengah sasaran 3,5%. Sedangkan tahun depan, BI masih optimis target inflasi akan berada di angka 3% plus minus 1%.

(Baca: Pekan Depan Musim Panen, Harga Cabai Diperkirakan Turun)

(Baca: Pengertian Inflasi dan Indikator Pembentuknya)

Sebelumnya, BI menyebut efek kemarau panjang yang terjadi saat ini telah berdampak pada kenaikan harga cabai yang turut menyumbang kenaikan inflasi. Kendati demikian, BI memastikan kenaikan harga cabai bersifat sementara.

Berdasarkan hasil pemantauan BI di daerah, cabai akan mulai memasuki musim panen. Panen terutama akan terjadi di wilayah Sumatera, terutama Sumatera Utara.

Harga cabai merah memang sempat melonjak hingga puluhan ribu rupiah per kilogram. Bahkan, di beberapa daerah, komoditas ini diperdagangkan dengan harga menyentuh Rp 100 ribu seperti di pasar tradisional Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Padahal cabai merah di pasar tersebut sebelumnya hanya Rp 60 ribu per kilogram. Kenaikan ini karena pasokan semakin sedikit terutama dari Aceh. Sedangkan para petani di Langkat banyak yang belum panen.

Untuk wilayah Cianjur, harga cabai di sejumlah pasar tradisional juga cukup tinggi mencapai Rp 75ribu per kilogram. Harga ini diperkirakan terus merangkak naik karena minimnya stok akibat gagal panen di tingkat petani.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mewaspadai musim kemarau yang terjadi hingga bulan Oktober akan berdampak pada kenaikan harga pangan. Pada Agustus 2019, harga cabai merah naik hingga 55% di Mamuju. Harga komoditas yang sama juga naik 14% di Kupang.

Selain itu, harga cabe rawit juga naik cukup tinggi di 73 kota. Beberapa kota diantaranya adalah Makassar dan Pare-Pare.

(Baca: BPS Waspadai Kemarau Panjang Berdampak ke Inflasi)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan