Rupiah Menguat di Tengah Kecemasan Negosiasi Dagang AS-Tiongkok

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

10/10/2019, 16.18 WIB

Rupiah berhasil menguat 0,16% ke posisi Rp 14.150 per dolar AS sore ini di tengah ketidakpastian perundingan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

dolar, rupiah, nilai tukar
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Ilustrasi. Rupiah berhasil menguat 0,16% ke posisi Rp 14.150 per dolar AS sore ini di tengah ketidakpastian perundingan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini menguat 0,16% atau 12 poin ke level Rp 14.150 per dolar AS. Rupiah menguat di tengah kecemasan investor terkait perundingan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. 

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menempatkan rupiah pada hari ini di posisi Rp 14.157 per dolar AS, menguat 25 poin dari level kemarin Rp 14.182 per dolar AS.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga terpantau menguat. Yen Jepang naik 0,04%, dolar Hongkong 0,03%, dolar Singapura 0,18%, dolar Taiwan 0,25%, won Korea Selatan 0,16%, peso Filipina 0,15%, yuan Tiongkok 0,12%, dan ringgit Malaysia 0,08%.

Sementara itu, rupee India dan baht Thailand terlihat melemah masing-masing 0,02% dan 0,28%.

(Baca: Negosiasi Dagang Buntu Karena Tiongkok Enggan Bahas Transfer Teknologi)

Panel Ahli Katadata Insight Center Damhuri Nasution mengatakan, rupiah menguat meski tertekan ketidakpastian perundingan dagang antara AS dan Tiongkok.

"Penguatan rupiah kali ini berkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) Indonesia yang masih sangat menarik bagi investor global," kata Damhuri kepada Katadata.co.id, Kamis (10/10).

Tadi pagi terdapat kabar yang kurang baik dari surat kabar Tiongkok. Dalam laporan tersebut, delegasi Tiongkok menolak membahas isu kewajiban melakukan transfer teknologi bagi perusahaan AS yang berbisnis di negara itu.

Isu ini tentunya sangat penting untuk AS lantaran masih menjadi penghalang bagi tercapainya kesepakatan dagang kedua negara tersebut. Langkah kewajiban transfer teknologi merupakan cara agar perusahaan yang bermitra dengan perusahaan asal AS bisa berkembang dan maju. Hal tersebut sebelumnya diklaim sebagai salah satu kerisauan perunding dari AS.

Sebagaimana diketahui, kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut akan bertemu pada Kamis hingga Jumat, 10-11 Oktober 2019. Namun, beredar kabar bahwa negosiasi tersebut hanya akan berlangsung satu hari saja dikarenakan perwakilan Tiongkok berencana pulang lebih awal.

(Baca: Tiongkok Tolak Bahas Isu Transfer Teknologi, Rupiah Kembali Melemah)

Selain menariknya imbal hasil SUN, menurut Damhuri, indikator makroekonomi Indonesia dinilai para investor masih relatif baik meski Bank Dunia baru saja memangkas lagi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dipangkas dari 5,1% menjadi 5% dan tahun depan dari 5,2% menjadi 5,1%. 

Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut seiring dengan kondisi ekonomi global yang makin tak pasti. Meski begitu, angka perekonomian Indonesia masih berada di level 5% dan diperkirakan terus naik pada setiap kuartal di tahun 2019. Nilai tersebut juga dinilai masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya seiring ketidakpastian global.

Maka dari itu, Damhuri menuturkan bahwa investor asing nampaknya masih terus berminat masuk ke pasar obligasi dalam negeri hingga saat ini. "Akibatnya tekanan terhadap rupiah relatif terbatas bahkan cenderung menguat hari ini," tutupnya.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan