Kontroversi Kebijakan Anies, Bagaimana JPO Tanpa Atap di Negara Lain?

Penulis: Sorta Tobing

8/11/2019, 17.55 WIB

Gubernur Anies Baswedan mencopot JPO menjadi tanpa atap di Jalan Sudirman. Kebijakan yang ia contoh dari luar negeri, tapi menimbulkan kontroversi.

JPO tanpa atap, anies copot atap JPO, jembatan penyeberangan orang tanpa atap
ANTARA/Livia Kristianti
Masyarakat melakukan aktivitas di jembatan penyeberangan orang (JPO) tanpa atap di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat di malam hari, Rabu (6/11/2019).

Ada yang berbeda di jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Sudirman, Jakarta. Tak ada lagi peneduh atau atap di atasnya. Yang terlihat hanya segaris panjang jembatan dengan pembatas di sampingnya.

Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lagi-lagi menuai kontroversi. Pasalnya, Anies memerintahkan anak buahnya untuk mencopot atap-atap JPO itu.

Ia berpendapat cara ini dapat mengundang minat masyarakat untuk berswafoto sambil melihat keindahan gedung pencakar langit di ibu kota. Namun, masyarakat justru memprotes kebijakan itu.

Tanpa atap, para pejalan kaki merasa tidak nyaman berjalan di jembatan karena langsung menghadapi panas atau pun hujan. “Kalau siang, mau nyari makan jadi terasa banget capeknya karena kena terik matahari yang kebangetan,” kata Panji seperti dikutip dari Antara kemarin, Rabu (6/11).

(Baca: Ahok dan Anies Berseteru, Buntut Anggaran Janggal di APBD Jakarta)

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho mengatakan JPO yang ada di Jalan Sudirman-Thamrin memang akan berkonsep atap terbuka. Jembatan yang beratap hanyalah yang terhubung dengan halte TransJakarta, untuk memudahkan para penggunanya.

Menurut dia, fungsi jembatan penyeberangan adalah bangunan pelengkap jalan yang menghubungkan dari trotoar ke trotoar. “Lah kan trotoar kita memang sudah terbuka. Kalau kehujanan, otomatis orang enggak menyeberang dong, wong hujan,” ucap Hari.

Sebelum mengeksekusi keputusan ini, Anies telah memintah para stafnya untuk membandingkan JPO di negara lain. “Di negara lain jembatan penyeberangan orang tanpa atap. Nanti silakan saja lihat di Google. Banyak JPO tanpa atap,” katanya.

Bagaimana JPO tanpa atap di negara lain?

Millennium Bridge, London, Inggris
Millennium Bridge, London, Inggris (Wikipedia)

1. Jembatan Millenium, Inggris

Di London, Inggris terdapat JPO yang sangat terkenal, yaitu Millennium Bridge. Jembatan ini terbentang di atas Sungai Tyne. Jadi, para penggunanya tak cuma melihat pemandangan gedung kuno dan modern, tapi juga keindahan sungai.

Bentuk jembatan selebar empat meter itu melengkung dan miring, agar kapal bisa berlayar di bawahnya. Strukturnya memakai suspensi tarik kawat baja. Para Londoners menyebut jembatan yang dibuka untuk umum pada Juni 2000 tersebut Wobbly Bridge, karena kerap bergerak-gerak ketika dilalui.

Di lantai jembatan ini terdapat terlukis 400 karya seni. Kalau menonton film Harry Potter and The Half Blood Prince, JPO ini muncul juga pada salah satu adegan.

2. Jembatan Segunda, Portugis

Bergerak ke bagian selatan Eropa terdapat Jembatan Segunda di Lisbon, Portugis. Anies mengaku mendapat inspirasi dari jembatan ini. Kalau melihat dari atas, jembatan ini bentuknya seperti kaki laba-laba. Ia tak hanya menyatukan dua titik lokasi, tapi 5 titik.

Warnanya oranye dan sangat lebar. Pejalan kaki hingga pengguna sepeda bisa melaluinya. Lokasinya menyatukan antara sebuah taman dengan gedung perkantoran.

(Baca: Anies Ditinggalkan Dua Pejabat di Tengah Sorotan Anggaran Janggal APBD)

3. Jembatan Pedestrian, Shanghai

Lalu, di Shanghai, Tiongkok, pas di pusat kotanya, dekat Pearl Tower alias Menara Mutiara, terdapat JPO berbentuk lingkaran. Lokasinya persis di atas persimpangan jalan.

Tanpa atap, jembatan ini cukup nyaman untuk dilalui karena lebarnya lebih empat meter dan menampilkan gedung pencakar langit Shanghai yang ikonik. Banyak turis menjadikan jembatan ini lokasi berswafoto.

Henderson Waves Bridges, Singapura
Henderson Waves Bridges, Singapura (Visit Singapore)

4. Jembatan Henderson Waves, Singapura

Singapura juga memiliki JPO yang tidak kalah indah, yaitu Jembatan Henderson Waves. Jembatan ini berbentuk seperti gelombang, melengkung dan memutar sepanjang 274 meter. Letaknya berada 36 meter di atas tanah sehingga jembatan ini kerap disebut yang tertinggi di Negeri Singa.

Bentuknya yang seperti relung yang tersembunyi dan cangkang yang menyerupai ceruk memungkinkan pengunjung untuk mengamati lingkungan sekitar. Jembatan ini menghubungkan Telok Blangah Hill Park dan Mount Faber Park, dua wisata alam Singapura.

Karena jembatan ini menghubungkan dua tempat outdoor maka dibutuhkan atap dan ceruk untuk pengguna jembatan yang ingin berlindung dari terik matahari dan hujan. Namun, desain pagarnya yang bergelombang masih memungkinkan pengguna untuk melihat keindahan alam sekitar.

Penulis: Amelia Yesidora (Magang)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan