Perdagangan Terdampak Corona, Sandiaga Usul Paket Ekonomi ‘Antivirus’

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Desy Setyowati

7/3/2020, 17.45 WIB

Sandiaga Uno menyatakan sektor perdagangan terdampak virus corona. Karena itu, ia usul paket kebijakan 'antivirus' untuk mendorong ekonomi.

Perdagangan Terdampak Virus Corona, Sandiaga Uno Usul Paket Ekonomi ‘Antivirus’
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, Sandiaga Uno menghadiri sidang tahunan MPR RI sidang beraama DPR RI - DPD RI dalam sidang DPR RAPBN 2020 di gedung Nusantara 2, DPR,  Jakarta Pusat (16/8/2019).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sandiaga Uno menyampaikan, sektor perdagangan terdampak wabah virus corona. Karena itu, ia mengusulkan paket kebijakan ekonomi ‘antivirus’ kepada pemerintah.

Paket kebijakan yang dimaksud yakni memuat beberapa aturan untuk mendorong perekonomian di tengah wabah virus corona. “Ketika ekonomi kurang baik, kebijakan yang dikeluarkan biasanya bagus-bagus," kata Sandi dalam acara diskusi di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (7/3).

Salah satu kebijakan yang diusulkan yaitu mengubah skema impor komoditas dan strategis, dari berdasarkan kuota menjadi tarif. Dengan penerapan sistem tarif, Sandi optimistis harga dan pasokan bahan pokok menjadi lebih stabil.

(Baca: Setuju Sri Mulyani, Faisal Basri: Corona Tumpulkan Kebijakan Ekonomi)

Menurut dia, selama ini pelaku usaha terhambat birokrasi yang berbelit-belit dengan adanya penerapan skema kuota. Sedangkan skema tarif dinilai lebih sederhana.

"Semua pemain bisa masuk dan sangat transparan, akuntabel, dan responsif. Kalau harga naik atau turun, tarif bisa di-adjust,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Ekonomi Pertanian sekaligus Peneliti Senior INDEF Bustanul Arifin menilai pemerintah perlu menyederhanakan kebijakan. Dengan begitu, pemerintah lebih responsif dalam menstabilkan suplai dan harga kebutuhan pokok.

"Konteks kebutuhan pokok dan strategis yakni ketersediaan dan stabilitas harga," kata Bustanul. Salah satu bahan pokok yang terdampak virus corona yaitu bawang putih, karena banyak yang diimpor dari Tiongkok.

Kelangkaan bawang putih dapat mengerek inflasi. "Memang ada prosedur yang perlu disederhanakan, kepastian harus ditingkatkan. Bagaimana pun akan menjaga stabilitas," katanya.

(Baca: Ekspor Terancam Corona, Fasilitas Kemudahan Impor KITE akan Diperluas)

Namun, Ekonom Senior Indef Faisal Basri melihat sebagian besar industri masih menunjukkan pertumbuhan bisnis. “Sektor pendidikan, kesehatan, farmasi, makanan dan minuman itu tumbuh bahkan diserbu,” katanya di Jakarta, kemarin (6/3).

Sedangkan beberapa sektor industri yang terancam mengalami perlambatan pertumbuhan seperti pariwisata dan industri yang bergantung pada bahan baku impor. Namun, detail perkembangannya masih harus menunggu data terkini.  

Sejauh ini, dalam catatannya, tujuh dari 17 sektor dalam industri pengolahan atau manufaktur menunjukkan pertumbuhan minus. Tapi, indeks manufaktur (PMI) naik ke atas 50.

“PMI naik itu menarik. PMI di Tiongkok tinggal 33, dari 50 batas ekspansi,” ujar Faisal. (Baca: Sri Mulyani: Dampak Corona Lebih Rumit Dibanding Krisis 2008)

Data per Januari, pertumbuhan sektor otomotif negatif 3%. Pada bulan yang sama, dari sisi sektor pariwisata, kunjungan turis masih tumbuh positif. Meskipun hal ini juga memunculkan kekhawatiran akan penyebaran corona.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hatarto juga mengungkapkan hal senada soal perkembangan sektor manufaktur. Menurutnya PMI berada di angka 51,2, setelah tertahan di bawah 50 sepanjang semester II tahun lalu dan Januari 2020.

Angka tersebut masih relatif lebih tinggi dibandingkan Tiongkok yang hanya 35,7. Sedangkan negara-negara lain seperti Hong Kong, Thailand, Vietnam dan Jepan relatif lebih rendah. "Momentum ini yang mau digunakan Presiden Joko Widodo untuk mendorong impor dan ekspor," kata dia.

Untuk mengurangi dampak virus corona, pemerintah telah menyiapkan beberapa insentif.  Pemerintah sepakat menggelontorkan insentif Rp 10,3 triliun untuk mendorong sektor pariwisata.

Lalu disiapkan Kartu Pra-Kerja, Kartu Sembako, dan relaksasi pajak untuk hotel dan restoran. Pemerintah juga merencanakan insentif untuk sektor manufaktur.

(Baca: Indef Sebut Beberapa Industri yang Masih Tumbuh di Tengah Wabah Corona)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan