Pakar: Mundur atau Tidak, Target Produksi Migas 2030 Tak Realistis
Kementerian ESDM masih optimis bahwa target produksi migas 2030 dapat tercapai. Namun melihat kinerja lifting migas saat ini, SKK Migas mengatakan target produksi kemungkinan baru tercapai pada 2033 atau mundur 3 tahun.
Founder Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan kedua pandangan baik itu Kementerian ESDM maupun SKK Migas dinilai tidak realistis. “Bagi saya, (keduanya) sama-sama tidak cukup realistis,” kata Pri saat dihubungi Katadata.co.id pada Senin (18/3).
Sebagai informasi, pemerintah menetapkan target produksi migas 2030 sebesar 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik per hari gas direvisi.
“Karena sampai saat ini saya juga tidak melihat secara spesifik dari lapangan mana saja tambahan produksi itu akan diperoleh dan kapan waktu mulai put on production-nya,” ucapnya.
Pri menjelaskan bahwa penambahan angka produksi migas dapat dicapai melalui gambaran makro berupa upaya eksplorasi baru, penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR), maupun upaya lain.
“Dan semuanya menurut saya masih sangat makro, tidak cukup spesifik dan tidak cukup jelas target tata waktu dan siapa pelaku yang akan mengeksekusinya,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM mengatakan pihaknya masih optimis target tersebut dapat dicapai. “Menurut kami bisa saja tercapai,” kata Tutuka saat ditemui di Kementerian ESDM pada Kamis (14/3).
Tutuka menilai target tersebut masih bisa dicapai jika sumur migas non konvensional yang ada di Wilayah Kerja (WK) Rokan dapat berproduksi.
“Kalau kami terutama menaruh harapan yang cukup besar di sumur MNK dan EOR. Kalau itu berhasil saya kira keduanya akan menyumbang kontribusi besar untuk produksi minyak. ini dari perspektif dirjen migas ya,” ujarnya.
Tutuka menyampaikan suksesnya produksi MNK ini bergantung pada kegiatan pengeboran di dua sumur yang ada pada WK Rokan. “Kalau hasilnya bagus mungkin dua bulan kedepan akan ada informasi lebih detail soal itu,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan akan mereview kembali target tersebut dan telah melakukan kajian bersama sejumlah ahli. Dari kajian tersebut didapati bahwa kemungkinan target produksi migas 2030 harus mundur hingga tiga tahun dari target awal.
Kendati demikian, Tutuka kembali mengatakan bahwa target tersebut masih dapat dicapai. “Bisa aja. Itu mungkin rencananya masih di SKK Migas ya tapi kalau menurut kami bisa saja,” ujar Tutuka.
