Ekspor CPO Indonesia Diprediksi Turun 1 Juta Ton Tahun Ini

Andi M. Arief
6 Juni 2022, 16:15
Pekerja melintas di depan tumpukan kelapa sawit di Desa Mulieng Manyang, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Aceh, Rabu (3/11/2021). Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Aceh dari Rp1.800 perkilogram naik menjadi Rp3000 perkilogram menyusul tinggi
ANTARA FOTO/Rahmad/hp.
Pekerja melintas di depan tumpukan kelapa sawit di Desa Mulieng Manyang, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Aceh, Rabu (3/11/2021). Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Aceh dari Rp1.800 perkilogram naik menjadi Rp3000 perkilogram menyusul tingginya permintaan Crude Palm Oil (CPO) di pasar

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencapai 33,21 juta ton sepanjang 2022, atau turun 3% dibandingkan total ekspor tahun sebelumnya sebesar 34,2 juta ton. Penurunan tersebut diantaranya disebabkan cuaca ekstrem dan penurunan ekspor ke Rusia.

Berdasarkan data Gapki, volume ekspor CPO dan turunannya anjlok hingga 37,56% secara tahunan per Maret 2022 menjadi 2,01 juta ton dari 3,23 juta ton. Tujuan ekspor CPO yang mengalami penurunan volume terbesar adalah Rusia sebesar 50%, diikuti Malaysia sebesar 41%, dan Belanda sebesar 33%.  Selain itu, pemerintah juga sempat menghentikan ekspor CPO dan produk turunannya selama 28 hari.

Sekretaris Jenderal Gapki Eddy Martono mengatakan, cuaca ekstrem basah pada awal tahun akan mempengaruhi produksi sepanjang 2022. Namun demikian, realisasi produksi semester I-2022 akan menentukan sinyal kecenderungan produksi tahun ini. 

Eddy berharap pemerintah bisa menaikkan alokasi volume penerbitan ekspor (PE) minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya. “Kami berharap apabila program minyak goreng curah rakyat terpenuhi baik secara volume maupun harga, maka bisa dinaikkan (rasio) alokasi PE," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Senin  (6/5). 

 Saat ini, penerbitan PE CPO diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri No. 18/2022 dan Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri No. 12/2022. Alokasi volume PE CPO adalah lima kali dari realisasi penyaluran CPO dan turunannya ke dalam negeri sesuai aturan kewajiban pasar dalam negeri (DMO). 

Hingga 5 Juni 2022, realisasi CPO dan turunannya sesuai DMO mencapai 346.680 ton. Sementara itu, saldo PE yang tersedia untuk eksportir CPO dan turunannya adalah 1,04 juta ton atau tiga kali dari realisasi DMO. 

Saat ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menerbitkan 251 PE CPO untuk 23 perusahaan. Alokasi PE CPO tersebut mencapai 302.032 ton atau 29,04% dari saldo PE yang tersedia. 

Implementasi aturan DMO menyebabkan berakhirnya masa subsidi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kepada produsen minyak goreng. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 33-2022 tentang Tata Kelola Program Minyak Goreng Curah Rakyat (MGCR).

 Alhasil, Eddy mengatakan, pemerintah akan merevisi besaran pungutan ekspor dan bea keluar terkait eksportasi CPO dan turunannya. Saat subsidi masih berlaku, tingkat atas pengutan ekspor dinaikkan dari US$ 1.000 per ton menjadi US$ 1.500 per ton. 

"Dari hasil sosialisasi kemarin malam, pengutan ekspor dan bea keluar akan direvisi karena program subsidi minyak goreng curah rakyat sudah dicabut. Menurut informasi kemarin, (pungutan ekspor) bukan dinaikkan, tetapi akan diturunkan," kata Eddy. 

Mengutip catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total volume ekspor minyak sawit pada Maret 2022 hanya mencapai 2,01 juta ton, turun 3,14% dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,09 juta ton.

 Meski turun secara volume, nilai ekspor minyak sawit tercatat naik 26% dari US$2.799 milar pada Februari 2022 menjadi US$3.513 juta pada Maret 2022.

Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...