AS Setop 3G pada 2022 dan Fokus 5G – 6G, Bagaimana Indonesia?

Empat perusahaan telekomunikasi AS berencana menyetop layanan 3G pada 2022. AS dan Tiongkok pun bersaing ketat mengembangkan 5G dan 6G. Bagaimana di Indonesia?
Desy Setyowati
15 Juni 2021, 15:37
AS Setop 3G pada 2022 dan Fokus 5G – 6G, Bagaimana Indonesia?
ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer
Seorang pria memasang lampu di sebelah tanda 5G pada Mobile World Congress (MWC) di Shanghai, Tiongkok, Selasa (25/6/2019).

Beberapa perusahaan telekomunikasi di Amerika Serikat (AS) akan menyetop jaringan internet generasi ketiga (3G) pada 2022. Mereka mulai berfokus pada 5G dan 6G. Bagaimana di Indonesia?

“Ada empat operator utama AS yang akan memastikan 3G pada 2022,” demikian dikutip dari HowToGeek, Senin (14/6). AT&T bakal menyetop layanan 3G pada Februari 2022.

Sprint milik T-Mobile menutup CDMA 3G pada Januari 2022. T-Mobile juga akan menyetop 3G pada Januari 2022, namun tetap menggelar GSM 2G.

Lalu Verizon berencana mematikan jaringan 3G pada 31 Desember 2022. “Pelanggan yang masih memiliki perangkat 3G akan terus didorong untuk melakukan perubahan sekarang,” kata Verizon dalam situs resmi.

Advertisement

Layanan 3G pertama kali digunakan pada 2001. Pada 2007, jaringan ini mulai dipakai secara luas.

Namun 3G mulai tergantikan oleh 4G LTE pada 2009. Kini, beberapa negara, termasuk Indonesia mulai mengimplementasikan 5G.

AS dan Tiongkok bahkan berlomba-lomba mengembangkan 6G. AS telah mengkaji pengembangan 6G sejak 2019. Saat itu, mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Negeri Paman Sam bakal mengadopsi 6G sesegera mungkin.

Pengembang standar telekomunikasi AS atau Alliance for Telecommunications Industry Solutions (ATIS) juga telah meluncurkan Next G Alliance terkait 6G. Raksasa teknologi seperti Apple, AT&T, Qualcomm, Google, dan Samsung Electronics Co masuk dalam aliansi ini.

Selain mengembangkan 6G, AS menekan industri 5G Tiongkok. Caranya, dengan memblokir layanan 5G Huawei dan mendorong negara-negara di Eropa untuk melakukan hal serupa.

Direktur industri teknologi informasi dan komunikasi Frost and Sullivan di AS Vikrant Gandhi mengatakan, AS dan Tiongkok bersaing mengembangkan dan mematenkan 6G karena potensinya besar. Teknologi ini juga diprediksi menguasai revolusi industri berikutnya.

"Kemungkinan persaingan untuk kepemimpinan 6G akan lebih sengit daripada 5G," kata Gandhi dikutip dari The Star, pada Februari lalu (14/2).

Sedangkan Indonesia baru mengimplementasikan 5G pada akhir Maret. Ada dua operator seluler yang sudah menyediakan yakni Telkomsel dan Indosat.

Namun perusahaan analisis jaringan telekomunikasi, OpenSignal mencatat bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih menggunakan 2G dan 3G. Padahal, mereka menilai kedua spektrum jaringan ini perlu dihapus untuk memaksimalkan jaringan 4G atau 5G.

"Indonesia mengalami peningkatan signifikan seperti dengan meluncurkan 5G. Namun, spektrum yang digunakan untuk layanan seluler membatasi negara mewujudkan potensi penuh," demikian dikutip dari laporan OpenSignal, pekan lalu (3/6).

Apabila pita frekuensi 2G dan 3G dihapus dan digunakan untuk perluasan 4G atau pengembangan 5G, pengalaman seluler Indonesia dinilai bakal meningkat. Pemanfaatan spektrum untuk 4G dan 5G pun menjadi lebih efisien.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), ada 12.548 desa yang belum terakses 4G per tahun lalu. Rinciannya, 9.113 desa berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Sedangkan 3.435 lainnya di luar wilayah ini, sehingga menjadi tanggung jawab operator seluler untuk menyediakan 4G.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait