Penambang AS Core Scientific Bangkrut, Ini Daftar Bursa Kripto Tumbang

Lenny Septiani
23 Desember 2022, 15:16
kripto, sam bankman-fried, Bitcoin
Unsplash/Brian Wangenheim
Ilustrasi cara mining Bitcoin

Penambang bitcoin berbasis di Amerika Serikat (AS) Core Scientific resmi bangkrut pada Kamis (22/12). Ini menambah jumlah perusahaan kripto yang bangkrut sejak awal tahun.

Hakim Kebangkrutan AS David Jones menyetujui pinjaman kebangkrutan Core Scientific untuk sementara waktu US$ 37,5 juta di sidang pengadilan di Houston, Texas. “Perusahaan akan mencari persetujuan akhir atas pinjaman dan izin meminjam tambahan US$ 37,5 juta pada Januari,” demikian dikutip dari Reuters, Kamis (22/12).

Pengacara Core Scientific mengatakan terbuka untuk penawaran pembiayaan yang lebih baik dari pemberi pinjaman lainnya.

Daftar Perusahaan Kripto Bangkrut:

1. Core Scientific

Core Scientific merupakan penambang cryptocurrency terbesar di Amerika Serikat. Perusahaan memasok bitcoin untuk diri sendiri dan pelanggan, seperti Celsius.

Core Scientific mengungkapkan beberapa penyebab perusahaan bangkrut, yakni:

  • Penurunan tajam harga bitcoin
  • Kenaikan biaya energi untuk penambangan bitcoin
  • Utang US$ 7 juta yang belum dibayar dari pemberi pinjaman kripto di AS Celsius Network, salah satu pelanggan terbesar perusahaan.

Dalam pengajuan kebangkrutan di pengadilan, perusahaan mengatakan bahwa tidak akan dilikuidasi. Core Scientific bermaksud mengejar restrukturisasi yang didukung oleh kreditur yang memegang lebih dari 50% dari catatan konversi perusahaan.

2. Celsius

Pelanggan Core Scientific yakni Celsius lebih dulu mengajukan kebangkrutan pada Juli. Dalam dokumen di pengadilan, Celsius mengatakan bahwa perusahaan memiliki klaim US$ 40 juta terhadap Three Arrows Capital.

Celsius Network memperkirakan aset dan kewajibannya sekitar US$ 1 miliar hingga US$ 10 miliar, dengan lebih dari 100.000 kreditur. Perusahaan memiliki uang tunai US$ 167 juta.

3. Three Arrows Capital

Three Arrows Capital atau 3AC yang memiliki utang di Celsius, bangkrut pada awal Juli. Perusahaan hedge fund ini terkena krisis likuiditas dalam ekosistem kripto karena gagal membayar utang.

3AC kehilangan sekitar US$ 400 juta selama krisis likuiditas ini. “Runtuhnya Three Arrows Capital memicu jatuhnya banyak perusahaan lain di seluruh ruang kripto,” kata analis GlobalBlock Marcus Sotiriou dikutip dari Business Insider, pada Juli (4/7).

4. Terra Luna

Terra Luna bangkrut setelah koin kriptonya anjlok hingga menjadi Rp 0 pada Mei. Pendiri CEO Terraform Labs Do Kwon pun menjadi buron.

Three Arrows Capital dan Celsius berinvestasi di Terra Luna.

5. Voyager Digital Ltd

Pemberi pinjaman crypto AS Voyager Digital Ltd mengajukan kebangkrutan pada awal Juli, setelah menangguhkan penarikan dan penyetoran. Perusahaan ini berutang kepada Alameda Research US$ 75 juta milik Sam Bankman-Fried.

Namun Alameda juga berutang kepada Voyager US$ 377 juta. Selain itu, memiliki 9% saham di Voyager.

Di satu sisi, Alameda juga menjadi investor ekuitas utama Voyager sebelum perusahaan mengajukan kebangkrutan.

Pengacara Alameda Research dan Voyager bergumul di pengadilan terkait hubungan yang dalam dan kompleks antara kedua perusahaan.

6. FTX dan 130 perusahaan afiliasi

Bursa kripto FTX dan 130 perusahaan afiliasi milik Sam Bankman-Fried mengajukan kebangkrutan di pengadilan Kepailitan Amerika Serikat (AS) bulan lalu(11/11).

Sam Bankman-Fried meluncurkan bursa FTX pada 2019. Valuasinya US$ 18 miliar tahun lalu.  “FTX menjadikannya salah satu orang terkaya di bawah 30 tahun dalam sejarah,’ demikian dikutip dari Forbes, pada Agustus (10/8).

Sam Bankman-Fried pun ditangkap atas beragam tuduhan terkait penipuan, sehingga merugikan pelanggan.

7. BlockFi

Pemberi pinjaman kripto, BlockFi mengajukan kebangkrutan pada bulan lalu, (28/11). BlockFi diketahui memiliki sekitar US$ 355 juta (Rp 5,5 triliun) dalam cryptocurrency yang dibekukan di bursa kripto FTX.

8. Compass Mining

Perusahaan hosting kripto, Compass Mining kehilangan salah satu fasilitas yang berbasis di Maine, AS. Sebab, pemilik tempat hosting Dynamics Mining ini mengakhiri perjanjian dengan Compass Mining.

Dynamics juga mengklaim bahwa Compass gagal membayar tagihan listrik yang diperlukan. Perusahaan menuduh Compass memiliki enam pembayaran terlambat terkait tagihan utilitas dan biaya hosting.

Menurut Dynamics, tagihan konsumsi daya mencapai US$ 1,2 juta. Sedangkan Compass hanya membayar sekitar US$ 665 ribu.

Compass mengklaim telah memberikan uang yang diperlukan untuk tagihan itu. Tetapi Dynamics menuduh, uang itu digunakan untuk membangun fasilitas lain sebagai gantinya.

Compass Mining merupakan perusahaan hosting kripto yang menyediakan fasilitas penambangan bernama ASIC. Para penambang kripto bisa memakai perangkat keras dari Compass Mining untuk menghasilkan bitcoin.

Reporter: Lenny Septiani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait