Bos Lippo Optimistis pada Startup RI meski Ada ‘Zombi Unicorn’ di AS

Fahmi Ahmad Burhan
19 Mei 2022, 13:23
Grup Lippo, zombi unicorn, silicon valley, lippo, startup, John Riady
Grup Lippo
CEO Grup Lippo John Riady

Perusahaan teknologi di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS) mencatatkan masa terburuk tahun ini dan disebut ‘zombie unicorn’. Namun, CEO Lippo Karawaci sekaligus Direktur Lippo Group John Riady tetap optimistis terhadap potensi startup Indonesia.

Menurutnya, penurunan harga saham teknologi dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Silicon Valley bersifat sementara.

Silicon Valley merupakan pusat inovasi di Amerika yang mencetak banyak perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Tesla, Twitter hingga Yahoo. Letaknya di selatan San Francisco, California, AS. Wilayah ini menampung sekitar 2.000 perusahaan teknologi.

Sejumlah perusahaan teknologi di Silicon Valley, AS mencatatkan kinerja buruk dan disebut zombie unicorn. Frasa zombi unicorn merujuk pada perusahaan rintisan bernilai tinggi tetapi goyah dan membutuhkan investor baru untuk menyelamatkan bisnis mereka.

“Apabila diamati, saham perusahaan teknologi seperti Amazon memang drop pada 2021, tapi itu volatilitas," katanya dalam acara Fortune Indonesia Summit 2022, Kamis (19/5).

“Secara fundamental, dilihat dari customer behavior, perusahaan teknologi ini akan kencang,” tambah John. "Amazon 15 tahun kemudian akan menjadi raksasa.”

Ia pun percaya bahwa potensi startup di Indonesia akan besar pada masa depan. "Sektor ini akan tumbuh 1.000 kali lipat, jadi opportunity value creation terbesar," katanya.

Grup Lippo gencar berinvestasi ke startup Indonesia sejak 2014. Saat itu, Grup Lippo masuk ke semua perusahaan teknologi di Tanah Air, seperti Tokopedia, Traveloka, Gojek, total kapitalisasinya sekitar US$ 60 juta.

Melalui perusahaan modal ventura Venturra Capital, Lippo Group juga berinvestasi di banyak startup seperti Zilingo, Ruangguru, Luno, Shopback, Kaodim, Sociolla, Bride Story, Fabelio hingga TADA.

Managing Partner East Ventures Roderick Purwana sebelumnya mengatakan, masa terburuk perusahaan teknologi Silicon Valley itu terjadi karena sejumlah pemicu, seperti:

  1. Ekspektasi investor kepada perusahaan teknologi berkurang setelah pandemi Covid-19
  2. Tingginya inflasi dunia yang membuat bank sentral AS, The Fed menaikkan suku bunga
  3. Kekhawatiran geopolitik, seperti perang Rusia dan Ukraina

"Ini akan memberi dampak ke dunia, investor lari ke aset yang lebih aman," kata Roderick, Selasa (17/5).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...