Produksi Listrik Surya Global Susut 5,8% Akibat Polusi, PLTU Jadi Biang Keladi

Ajeng Dwita Ayuningtyas
19 Mei 2026, 11:55
Studi terbaru menunjukkan aerosol yang banyak dihasilkan PLTU batu bara menghalangi sinar matahari, dan menurunkan produksi listrik PLTS.
Vecteezy.com/Amit Kumar Simanto
Studi terbaru menunjukkan aerosol yang banyak dihasilkan PLTU batu bara menghalangi sinar matahari, dan menurunkan produksi listrik PLTS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Studi terbaru menunjukkan aerosol yang banyak dihasilkan pembangkit listrik energi uap (PLTU) batu bara menghalangi sinar matahari secara signifikan. Kondisi ini membuat berkurangnya produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) global.

Berdasarkan hasil studi bertajuk Coal Plants Persist as a Large Barrier to the Global Solar Energy Transition, produksi listrik dari PLTS berkurang 5,8 persen pada 2023. Ini setara dengan hilangnya 111 terawatt-jam (TWh) listrik, atau kira-kira sama dengan produksi listrik dari 18 PLTU batu bara berukuran menengah. 

Selama periode 2017 hingga 2023, instalasi PLTS baru menambah produksi listrik rata-rata 246,6 TWh per tahun. Namun, pada saat yang sama, polusi aerosol menyebabkan PLTS yang sudah beroperasi kehilangan sekitar 74 TWh listrik setiap tahun.

Artinya, hampir sepertiga dari tambahan listrik yang dihasilkan PLTS baru tergerus oleh polusi udara.

Penulis utama studi tersebut Rui Song mengatakan dunia sedang menyaksikan pertumbuhan energi terbarukan yang sangat pesat. Namun, efektivitas transisi ini ternyata lebih rendah dari yang selama ini banyak diasumsikan.  

“Ketika PLTU batu bara dan PLTS berkembang secara bersamaan, emisi dari batu bara mengubah kondisi radiasi matahari di atmosfer. Akibatnya, kinerja PLTS justru menurun secara langsung," kata Peneliti di Departemen Fisika University of Oxford dan Laboratorium Ilmu Luar Angkasa University College London itu.

Aerosol juga dapat ditimbulkan oleh kendaraan dan sumber alami seperti aktivitas gunung berapi. Namun, studi menunjukkan PLTU batu bara sebagai kontributor utama dari artikel kecil tersebut. 

Dampak polusi aerosol dari PLTU batu bara terhadap produksi listrik PLTS terekam jelas di Cina. Negeri Tirai Bambu merupakan produsen listrik tenaga surya terbesar di dunia. Pada 2023, negara ini menghasilkan 793,5 TWh listrik dari PLTS, setara dengan 41,5 persen dari total produksi global.

Namun, produksi listrik dari PLTS di negara tersebut diperkirakan turun 7,7 persen akibat partikel pencemar di udara. Para peneliti memperkirakan sekitar 29 persen dari total kehilangan produksi listrik PLTS di Cina yang terkait aerosol berasal secara khusus dari emisi PLTU batu bara.

Rui Song menambahkan, polusi udara tidak hanya menghalangi sinar matahari, tetapi juga memengaruhi pembentukan awan, yang dapat semakin menurunkan produksi listrik PLTS.

"Artinya, dampak sebenarnya kemungkinan lebih besar daripada yang berhasil kami ukur. Jika polusi dari PLTU batu bara tidak dikendalikan, kita berisiko melebih-lebihkan seberapa besar kontribusi PLTS dalam menurunkan emisi," ujarnya. 

Sebagai informasi, hasil studi ini diperoleh dengan memetakan dan menganalisis lebih dari 140.000 instalasi panel surya fotovoltaik (PV) di seluruh dunia menggunakan data satelit. Kemudian, menggabungkan data tersebut dengan informasi atmosfer mengenai polusi udara.

Adapun menurut laporan lembaga kajian energi EMBER, pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan terbarukan lainnya menyumbang 34 persen produksi listrik global pada 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pangsa listrik batu bara. 

Namun, batu bara masih menjadi sumber energi penting bahkan utama di pusat manufaktur dunia Cina, maupun di negara berkembang, termasuk negara-negara Asia Tenggara dan India. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...