Sambut Transisi Energi, Pengusaha Mulai Ubah Strategi Bisnis

Muhamad Fajar Riyandanu
22 Maret 2022, 15:21
transisi energi, pengusaha, kadin, tbs energi
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.
Petani menyiangi cabai di bawah panel surya yang dipasang di kawasan pertanian Le Marsi di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Minggu (17/1/2021).

Sejumlah pelaku usaha lintas sektor berkomitmen untuk mengubah perilaku usaha sebagai dukungan terhadap transisi energi di Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung target pemerintah dalam mencapai nol emisi karbon pada 2060.

Kepala Startegis Perusahaan PT TBS Energi Utama, Nafi Achmad Sentausa, memperkirakan pasokan 14 juta ton batu bara akan habis dalam lima tahun ke depan. Oleh karena itu perlu adaptasi untuk terus memperpanjang umur industri kelistrikan dengan mengedepankan energi baru dan terbarukan (EBT) secara bertahap.

Advertisement

“Secara bertahap mengurangi penggunaan batu bara sebagai bahan bakar produksi listrik. Bahkan pada 2030, TBS memiliki target netral karbon dengan 80% keuntungan dialokasikan untuk pengembangan green bisnis,” ujarnya dalam DBS Asian Insight Conference, Kolaborasi DBS dan Katadata Indonesia, Selasa (22/3).

Nafi menyadari, perlu waktu untuk mengubah ketergantungan dari penggunaan energi fosil ke EBT. Adapun TBS Energi Utama sudah bersiap untuk melakukan transisi energi pada 2024. “Untuk mengeksekusi perubahan dari energi fosil ke energi terbarukan itu dieprkirakan menghabiskan US$ 500 juta,” sambungnya.

Sejumlah langkah telah dilakukan oleh TBS Energi Utama untuk mengantisipasi adanya potensi pensiun dini PLTU seperti membangun pembangkit listik energi terbarukan di sejumlah wilayah. Salah satunya yaitu pembangkit listrik tenaga air skala kecil di daerah Sumber Jaya, Lampung, dengan kapasitas 6 megawatt (MW).

“Selain itu ada pembangkit listrik tenaga angin 22 MW, sinar matahari, dan biomassa, waste to energy yang mengubah limbah dan menjadi energi,” ujarnya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Kemitraan untuk Pertanian Berkelanjutan Indonesia (Pisagro), Insan Syafaat. Ia menyampaikan, trasnsisi energi telah dimulai sejak 2011. Sekira 24 perusahaan yang tergabung kini mengembangkan konsep food security untuk mencapai pasokan pangan keberlanjutan.

Upaya tersebut dilakukan dengan memunculkan ekosistem kemitraan yang tertutup. Model kemitraan ini fokus pada rantai pasokan petani dan peternak yang langsung berhubungan dengan komoditas tertentu.

“Ada 11 kelompok kerja yang langsung berhubungan dengan komoditas tertentu, seperti produk pangan, perennial crop, kelapa sawit, dan sebagainya,” kata Insan.

Lebih lanjut, tantangan terbesar yang ditemui dalam upaya transisi energi adalah membangun ekosistem bisnis yang inklusif. Seluruh aktor yang berperan dalam bisnis peternakan, perkebunan, dan pertanian diharap bisa saling memfasilitasi dan memberi solusi atas masalah yang dialami oleh perlaku usaha.

“Tantangan terbesar adalah dari berbagai komoditas itu aktornya sulit ditemukan. Beberapa akses yang perlu dihadirkan supaya sektor pertanian, misalnya, bisa dihadirkan, akses terhadap pupuk dan bibit dan bagaimana produk-produk mereka diserap, dan akses kepada pembiayaan sebagai kunci untuk membantu pertanian dapat terus berkelanjutan,” sambung Insan.

Halaman:
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement