Progres Penangkapan Karbon Sektor Migas: Proyek CCS/CCUS di Bintuni Paling Maju
Indonesia sedang mengembangkan 19 proyek penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon (CCS/CCUS). Proyek-proyek ini tersebar di berbagai wilayah kerja hulu migas. Bagaimana progresnya?
Inspektur Minyak dan Gas Ahli Muda Kementerian ESDM Fahrur Rozi Firmansyah mengatakan, proyek yang perkembangannya paling progresif adalah proyek Tangguh Ubadari CCUS, dan Compression (Tangguh UCC) di Teluk Bintuni, Papua Barat. Proyek ini dikembangkan dan dikelola oleh raksasa migas British Petroleum (BP).
“Paling advance saat ini, karena mereka masuk proyek strategis nasional (PSN),” kata dia dalam acara Soft Launching The 4th International and Indonesia Carbon Capture & Storage Center (IICCS) Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1).
Saat ini, proyek tersebut tengah dalam tahap konstruksi dan ditargetkan bisa beroperasi pada 2028. Fasilitas CCS/CCUS yang dibangun BP berskala besar dan berpotensi menjadi CCS Hub pertama di Indonesia, dengan potensi kapasitas penyimpanan CO2 sekitar 1,8 Gigaton.
Rozi mengatakan dari hasil pemantauan tiap tiga bulan sekali, proyek CCS/CCUS nasional masih berprogres secara fisik maupun persiapan. Proyek di lapangan LNG Abadi di Blok Masela, Maluku, yang dikelola INPEX Corporation dilaporkan berada di tahap awal perancangan atau Front-End Engineering and Design (FEED). Sedangkan proyek di Blok Sakakemang di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, di tahap persetujuan rencana pengembangan atau plan of development (POD).
Selain penyimpanan karbon, proyek CCUS juga dikaitkan dengan upaya meningkatkan produksi migas enhanced oil recovery atau EOR. Teknologi ini menggunakan injeksi CO₂ untuk mendorong minyak keluar dari reservoir. BUMN migas Pertamina telah melakukan uji coba EOR berbasis CO₂ di Blok Sukowati, Jawa Timur, yang sekaligus terintegrasi dengan proyek CCS/CCUS. “Setahu saya hasilnya cukup bagus dan mereka menyiapkan langkah untuk pengembangannya secara penuh,” ujar Rozi.
